Sulawesitoday - Sebuah janji akhirnya lunas. Di Parigi Moutong. Tepat pada peringatan hari kemerdekaan bangsa. Sebanyak 3.527 anak bangsa yang lama menanti, akhirnya resmi menyandang status Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Ini adalah jawaban.
Momen itu terjadi di halaman kantor bupati. Minggu sore, 17 Agustus 2025. Sebelum sang saka merah putih diturunkan. SK diserahkan secara simbolis. Kebahagiaan itu nyata. Terpancar dari ribuan wajah yang hadir. Penantian panjang mereka. Kini telah berakhir dengan manis. Sebuah babak baru dalam hidup.
Namun, Bupati Parigi Moutong, H. Erwin Burase, tak membiarkan semua larut dalam euforia. Ia berdiri. Lalu menitipkan sebuah pesan penting. Sebuah pengingat. Yang ditujukan bukan hanya untuk PPPK baru. Tapi juga untuk para seniornya, para PNS. Kata-katanya lugas.
"Saya ingatkan kepada seluruh PNS," ucapnya dengan nada tegas. "Jangan sampai kinerja PPPK lebih baik dari pada kalian." Pesan itu bukan untuk memecah belah. Melainkan untuk membakar semangat. Sebuah ajakan untuk berlari lebih kencang. Bersama-sama. Mengigat standar pelayanan harus terus naik.
Bagi Erwin, ini adalah soal kehormatan. Soal komitmen. Pengangkatan ini adalah salah satu amanat utama. Dari program seratus hari kerja pertamanya bersama wakil bupati. "Hari ini tentunya merupakan suatu kebahagiaan," katanya. "Karena telah lama dinanti-nantikan, akhirnya terjawab sudah." Ia menepati kata-katanya.
Dasar hukumnya pun sangat kuat. Kepala BKPSDM, Mahmud M. Tandju, melaporkan semuanya secara rinci. Mulai dari UU ASN Nomor 20 Tahun 2023, hingga Peraturan BKN. Semuanya demi proses yang sah. Formasi 2024 tahap 1 ini akan mulai bekerja per 1 Juli 2025. Dengan kontrak kerja awal selama lima tahun.
Kini, mesin birokrasi di Parigi Moutong mendapat energi baru. Ribuan tenaga profesional siap berkontribusi. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang lebih unggul. Melainkan, seberapa cepat Parigi Moutong akan melaju dengan kekuatan baru ini? Waktu akan menjawabnya. Dan kita semua, adalah saksinya.
Baca Juga: Senior Citizen Yogyakarta Bongkar Misteri Bailout BCA: Yang Sesat Bukan Idenya, Tapi Diamnya Kita