Sulawesitoday - Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tergelincir jatuh. Ke level Rp8.700 per lembar. Sebuah angka yang memantik kecemasan investor. Padahal, secara fundamental, bank ini begitu kokoh. Laksana sebuah pilar yang berdiri tegak. Namun, kini dua badai datang silih berganti. Satu dari masa lalu. Satu lagi dari sorotan panggung hiburan. Keduanya menerpa nama besar BCA dalam satu pekan. Membangkitkan gelombang spekulasi.
Gara-gara itu, Komisi III DPR RI mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Desakan itu untuk mengusut tuntas kasus BLBI BCA. Anggota Komisi III DPR, Abdullah, menaggapi temuan dari Pansus DPD. Bahwa ada rekayasa busuk. Dalam akuisisi 51 persen saham BCA. Transaksi itu terjadi era Presiden Megawati Soekarnoputri. Ada kerugian negara triliunan rupiah di sana.
"KPK jangan tumpul. Usut kasus ini," tegas Abduh. Katanya, Komisi III akan memanggil KPK. Rencananya juga Pansus DPD. Agar kasus ini terang benderang. Dari hulu sampai hilirnya. Potensi kerugian itu, ujar legislator PKB ini, berdampak pada kesejahteraan rakyat. Jika dapat diselamatkan, uangnya bisa dialihkan. Untuk pembangunan yang lebih berarti.
Di waktu yang sama, drama lain terjadi. Aktris Nikita Mirzani naik pitam. Ia marah karena data mutasi rekeningnya terungkap. Di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. "Saya kecewa. Merasa privasi dilanggar," ungkap Nikita. Bayaran dari film hingga endorse tercatat jelas.
Padahal, baginya itu rahasia. Ia berencana melayangkan somasi. Setelah proses hukum selesai. Menjawab kegusaran itu, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, buka suara. Ia menegaskan, BCA tunduk pada ketentuan hukum. Wajib memenuhi permintaan aparat. Sesuai undang-undang.
Dua kisah ini bak dua sisi mata uang. Sama-sama menyedot atensi publik. Dan sama-sama mencoreng reputasi BCA. Isu hukum tentang korupsi dan mafia. Berpadu dengan isu privasi dari selebritas. Kombinasi ini menciptakan badai yang sempurna.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengakui sentimen publik dapat memengaruhi psikologi pasar. Walaupun fundamental BCA solid. Target harga saham jangka panjang masih di atas Rp12.500.
Lalu, dorongan pengambilalihan saham datang dari akademisi. Ekonom dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Sasmito Hadinegoro, mendorong Presiden Prabowo Subianto. Ia minta Presiden bentuk tim khusus. Untuk membongkar dugaan mafia keuangan. Juga ambil-alih 51 persen saham BCA. Tanpa harus bayar.
"Angin kencang telah kita tiupkan. Untuk usut kembali kasus BLBI," kata Sasmito. Ia melihat ada rekayasa. Di balik akuisi saham BCA. Hingga kini, pihak bank belum berkomentar. Namun, publik terus menyoroti. Kombinasi dua isu itu memang luar biasa. Satu menyeret nama penguasa. Satu lagi menyentuh hati penggemar. Entah mana yang lebih berbahaya. Ini rahasia.
Artikel Terkait
Dua Kali M6,0 dalam Sebulan, Alarm Alam untuk Warga Poso
Residivis Penikam Warga Palu Ditangkap dalam 5 Jam, Pelaku Beraksi Usai Masuk dari Lantai 2
Setya Novanto Bebas Lebih Cepat, Vonis 15 Tahun Mega Korupsi e-KTP Terpangkas MA
Viral Paskibraka di Papua Tetap Selesaikan Tugas Pengibaran Bendera RI, Meski Hampir Jatuh Pingsan
Viral Dugaan 3 WNI yang Nyaris Diculik Oknum Perdagangan Orang di Kamboja, Mulanya Dijanjikan Kerja Resto