berita

BMKG Ingatkan Warning Badai La Nina November 2025-Maret 2026, Curah Hujan Meningkat, Risiko Banjir dan Longsor

Sabtu, 8 November 2025 | 13:34 WIB
BMKG peringatkan fenomena La Nina lemah yang memicu peningkatan curah hujan hingga awal 2026. Pemerintah siaga hadapi potensi banjir dan longsor.

Sulawesitoday - Awan kelabu mulai menebal di langit Nusantara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan, Indonesia kini memasuki fase penting: masa peningkatan curah hujan yang menandai puncak musim basah. Fenomena La Nina lemah sedang berlangsung, dan meski dampaknya disebut tak terlalu kuat, potensi ancaman cuaca ekstrem tetap nyata di depan mata.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyebut periode ini harus diwaspadai dengan cermat. Berdasarkan analisis tiga bulan terakhir, sebagian besar wilayah mencatat lonjakan curah hujan yang signifikan. "La Nina lemah akan bertahan hingga awal 2026. Dampaknya terhadap penambahan hujan memang tidak besar, tapi intensitas hujan tinggi tetap perlu diantisipasi," ujarnya dalam Apel Kesiapsiagaan Bencana Kementerian Pekerjaan Umum.

Di Mana Saja Potensi Cuaca Ekstrem?

BMKG memetakan wilayah selatan Indonesia sebagai zona dengan risiko curah hujan tinggi hingga sangat tinggi. Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua bagian selatan diperkirakan menjadi daerah paling terdampak. Bahkan, dalam periode 3–9 November 2025, pesisir barat Sumatra, sebagian besar Jawa, Kalimantan, hingga Maluku akan diguyur hujan intensitas sedang hingga lebat.

Kombinasi La Niña lemah dan Dipole Mode negatif (-1,61) membuat atmosfer lebih labil. Kondisi ini memicu awan konvektif yang berpotensi menghadirkan hujan deras disertai angin kencang. Beberapa daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan termasuk dalam radar waspada BMKG.

Pemerintah Bergerak, Mitigasi Diperkuat

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Dody Hanggodo, menegaskan pentingnya kesiapan semua lini pemerintahan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. "BMKG sudah memberi warning dini. Kita tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar penanganan di lapangan cepat dan efektif," katanya.

Sebagai langkah antisipatif, pemerintah bersama BMKG dan BNPB menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Di Jawa Tengah, dua armada pesawat Cessna dan Grand Caravan telah diterbangkan dari Posko Semarang dan Solo sejak 25 Oktober hingga 3 November 2025. Sementara di Jawa Barat, operasi serupa dilakukan dari Posko Jakarta pada periode yang sama.

Cuaca Tak Bisa Dikendalikan, Tapi Bisa Diantisipasi

Menteri Dody menegaskan, arahan Presiden jelas: pemerintah harus selalu hadir dan tanggap di situasi darurat. "Kita tidak bisa mengendalikan alam, tapi kita bisa memastikan infrastruktur yang ada tetap berfungsi menghadapi badai," tegasnya.

Faisal menambahkan, curah hujan tinggi diprediksi mulai menurun secara bertahap pada Februari hingga April 2026, namun tetap di atas rata-rata normal. Karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu memantau informasi cuaca dan menjaga kewaspadaan, terutama di wilayah dengan tingkat kerentanan tinggi.

Dalam situasi ini, langit memang tak bisa dibujuk. Namun, kesiapsiagaan adalah bentuk kendali manusia atas ketidakpastian. Cuaca boleh berubah, tapi kesiapan tak boleh goyah.

Baca Juga: Satu Keluarga Terkubur Hidup-Hidup, Longsor 25 Meter Ratakan Rumah di Trenggalek

Tags

Terkini