"Waktu itu, progres sudah 60 persen, dan kami ajukan pencairan di 50 persen, tapi dipersulit. Kami harus keluar duit pribadi dulu," keluhnya. Ia bahkan sampai mengirim surat ke Bupati, Wakil Bupati, hingga Kejaksaan untuk mendapatkan persetujuan pencairan dari Dinas Perpustakaan.
Hambatan lain juga mencuat. Perpindahan lokasi kerja di awal proyek mengakibatkan keterlambatan dua minggu. Pembersihan lahan bahkan dikerjakan pakai uang pribadi Stanley karena anggaran awal belum cair.
"Start lambat dua minggu gara-gara pindah lokasi. Itu bukan salah kami sepenuhnya," ujarnya membela diri. Namun Sakti tidak mau tahu soal dalih administratif tersebut.
Yang membuatnya heran, SCM sudah dikeluarkan sebelum surat peringatan 1 hingga 3 diterbitkan. "Kok langsung SCM pak? Prosedurnya harusnya bertahap," protesnya.
-
Apakah Deadline 14 Desember 2025 Masih Realistis?
Stanley mengaku pekerjaan tersisa sekitar 7 persen saja. Ia yakin bisa menyelesaikan semua sebelum batas akhir 14 Desember 2025. Bahkan ia hanya minta tambahan waktu 10 hari dari deadline tersebut sebagai antisipasi. Ia pun siap dengan konsekuensi denda.
"Saya yakin bisa selesai pak. Karena saya benar dalam pekerjaan ini," tegasnya penuh percaya diri. Ia meminta agar pekerjaannya dicek langsung di lapangan untuk membuktikan keseriusan.
Soal kaca kontroversial itu, Stanley tidak mempermasalahkan pemasangannya. "Saya tidak permasalahkan kaca itu pak. Cuman demi keselamatan saja," jelasnya sambil menekankan pentingnya keamanan konstruksi.
Ia bahkan sudah menyiapkan gambar desain alternatif kaca dengan bingkai yang lebih kuat dan tahan lama. "Ini bisa lebih murah juga. Anggaran sisa bisa dialihkan ke pekerjaan lain," usulnya sembari menunjukkan sketsa perbandingan kedua tipe kaca.
Namun Sakti tetap bersikeras. Baginya, mengubah desain sama saja menghilangkan keunikan gedung perpustakaan yang sudah mendapat apresiasi. "Kalau diganti, keunikannya hilang begitu saja," tegasnya tidak mau kompromi.
Hingga kini, kaca pabrikan yang hanya tersedia di Surabaya belum dipesan oleh pelaksana. Kondisi ini membuat risiko keterlambatan semakin tinggi mengingat waktu tempuh pengiriman dan pemasangan yang membutuhkan presisi. Namun, Stanley sebut pemesanan hingga proses pengantaran ke lokasi kerja hanya butuh dua Minggu saja.
-
Mediasi Terakhir Sebelum Kontrak Putus
Besok, rapat krusial akan digelar antara kontraktor dan Dinas Perpustakaan. Ini mungkin kesempatan terakhir untuk mencari jalan tengah sebelum guillotine pemutusan kontrak turun.
Stanley berharap ada titik temu dalam pertemuan tersebut. Ia siap memasang kaca sesuai permintaan asal ada pihak yang mau bertanggung jawab secara hitam di atas putih jika terjadi kecelakaan konstruksi.
"Saya tidak ingin tanggung resiko dari perencanaan yang menurut saya ada deviasi kesalahan," katanya gamblang. Baginya, keselamatan pekerja dan pengguna bangunan lebih penting daripada estetika semata.
Namun Sakti juga tidak gentar dengan tekanan. "Mereka pakai orang-orang hebat untuk tekan dinas. Saya tidak suka ditekan. Kalau begitu justru makin tidak bagus," pungkasnya dengan nada keras.
Proyek perpustakaan ini kini seperti permainan catur tanpa pemenang. Dua pihak bersikukuh pada pendiriannya masing-masing—satu mengutamakan estetika dan standar, satunya lagi keamanan dan realitas lapangan.