Kabupaten Dairi menjadi perhatian utama. Pakpak Bharat turut dalam radar. Humbang Hasundutan—yang sudah merasakan getirnya banjir sebelumnya—kembali terancam. Kawasan Nias juga tidak luput: Nias Selatan, Nias Utara, hingga Nias Barat.
Kota Gunungsitoli bersiap menghadapi guyuran. Tapanuli Tengah—dengan 18,3 ribu pengungsi yang masih bertahan—kini menghadapi ancaman ganda. Kota Sibolga dan Tapanuli Selatan ikut dalam daftar.
Wilayah lain yang perlu waspada mencakup Kota Padang Sidempuan, Tapanuli Utara, serta Mandailing Natal. Padang Lawas dan Padang Lawas Utara jangan lengah. Langkat yang sudah menampung 11,1 ribu pengungsi harus antisipasi kondisi terburuk.
Kota Medan sebagai ibukota provinsi tentu tidak bisa santai. Kota Binjai, Deli Serdang, dan Karo masuk perhitungan. Simalungun, Samosir, Serdang Bedagai juga demikian. Kota Pematang Siantar dan Labuhanbatu Selatan melengkapi daftar panjang wilayah berpotensi terdampak.
Pertanyaannya kini sederhana namun mendesak: Apakah sistem penanggulangan bencana Sumut siap menghadapi gelombang kedua ini? Dengan ribuan pengungsi yang belum pulang, infrastruktur yang masih rusak, dan trauma yang belum sembuh, ancaman siklon 91S datang di waktu yang paling tidak tepat.
Warga Sumut kini menanti dengan was-was. Langit mendung bukan lagi sekadar tanda hujan biasa. Setiap gerimis membawa ingatan pahit November kemarin. Dan kali ini, sains memberi peringatan lebih awal. Apakah itu cukup untuk mencegah tragedi terulang?
Pemerintah daerah dan BNPB mesti bergerak cepat. Evakuasi preventif mungkin perlu dipertimbangkan. Stok logistik harus dipastikan cukup. Jalur evakuasi diperjelas kembali. Karena ketika siklon benar-benar datang, waktu tidak akan menunggu.