Sulawesitoday - Longsor kembali melanda. Kali ini di perbatasan Malalo dengan Paninggahan. Warga merekam detik-detik mengerikann itu. Rabu sore, 10 Desember 2025, tanah bergerak turun. Pohon besar tumbang. Kabel listrik putus disertai ledakan kecil.
Dalam rekaman video yang tersebar luas di media sosial, terdengar jelas teriakan panik perekam. "Masih bergerak turun, Astaghfirullah," ucapnya cemas. Detik berikutnya, suara keras menggema. "Awas awas, awas kabel!" Peringatan itu terlambat. Material longsor menghantam tiang listrik. Ledakan kecil menyambar udara. Arus listrik di kawasan itu langsung terganggu.
Video tersebut memperlihatkan momenn dramatis. Dimulai dari kerikil berjatuhan. Kemudian tanah mulai bergerak. Pohon raksasa ikut terseret. Jalanan tertutup seketika oleh material longsoran. Seseorang hampir mendekat ke area berbahaya. Perekam video berteriak memperingatkan. Situasi mencekam dalam hitungan detik.
Bagaimana Kondisi Banjir Bandang di Paninggahan?
Longsor bukan satu-satunya ancaman. Banjir bandang turut menerjang kawasan Paninggahan. Air coklat mengalir deras. Debiit naik drastis. Setengah bangunan rumah terendam.
Rekaman lain menunjukkan genangan luas. Air mengalir dengan kecepatan tinggi. "Debit air bertambah naik, begini kondisinya kak di Paninggahan," ujar seorang warga dalam video yang diunggah Rabu siang. Kawasan Muaro Pingai juga terdampak. Pemukiman warga menjadi sasaran luapan air sungai yang melampaui batas normal.
Warga setempat sudah bersiaga. Mereka berjaga di sepanjang aliran sungaii. Memantau pergerakan arus air. Kewaspadaan maksimal diberlakukan. Beberapa keluarga telah menyiapkan barang bawaan. Siap mengungsi kapan saja jika situasi memburuk.
Apa Penyebab Bencana Beruntun Ini?
Hujan lebat jadi biang keladinya. Sejak Selasa malam, 9 Desember 2025, hujan mengguyur tanpa henti. Intensitasnya sangat tinggi. Berlanjut hingga Rabu pagi. Tanah jenuh air. Lereng menjadi labil. Longsor pun tak terhindarkan.
Curah hujan ekstrem membuat sungai-sungai meluap. Debit air naik signifikan. Sistem drainase kewalahan menampung. Akibatnya, air menggenangi pemukiman. Warga di Kabupaten Solok menghadapi ancaman ganda—longsor dan banjir—dalam waktu bersamaan.
Kondisi geografis memperparah situasi. Wilayah Paninggahan berada di dataran rendah. Aliran air dari perbukitan langsung menuju kawasan ini. Ketika hujan deras terjadi di hulu, dampaknya dirasakan cepat di hilir. Pola bencana ini sebenarnya bukan pertama kali. Namun intensitasnya kali ini lebih mengkhawatirkan.
Pihak berwenang belum memberikan pernyatan resmi. Data kerugian masih dihitung. Yang pasti, warga membutuhkan perhatian segera. Evakuasi mungkin diperlukan. Jalur logistik harus dipastikan aman.
Seberapa Siap Warga Menghadapi Bencana Susulan?
Pengalaman mengajarkan kewaspadaan. Warga Paninggahan tak menunggu instruksi. Mereka proaktif memantau kondisi. Tim relawan sudah terbentuk. Komunikasi antar RT berjalan intens.
"Para warga yang berada di sekitar aliran sungai sudah siap untuk kembali mengungsi," demikian keterangan yang beredar. Trauma bencana sebelumnya masih membekas. Kali ini mereka lebih cepat bertindak. Barang berharga diamankan. Dokumen penting disimpan di tempat aman. Jalur evakuasi sudah dipetakan.
Namun pertanyaan tetap menggantung: apakah bantuan akan datang tepat waktu? Akses jalan terputus akibat longsor. Komunikasi terhambat karena listrik padam. Kondisi ini mempersulit upaya penanganan. Warga berharap pihak terkait segera bergerak. Sebelum korban jiwa berjatuhan.