Sulawesitoday - Air mata hampir jatuh. Bukan karena sedih. Melainkan bahagia yang meluap. Sepiring nasi padang menjadi hadiah terindah bagi seorang pengungsi banjir di Aceh Tamiang, Jumat (12/12/2025).
Dua pekan sudah berlalu. Banjir bandang merendam kawasan ini. Ribuan warga kehilangan rumah. Posko darurat menjadi tempat berteduh. Makanan? Hanya yang ada.
Seorang perempuan di pengungsian Kota Lintang Bawah menangis haru. Tangannya gemetar memegang piring. Di atas piring itu, nasi putih hangat bersanding dengan rendang, gulai, dan sambal hijau khas Minang. Sudah lama ia tak menyentuh makanan seperti ini.
"Dua minggu aku enggak kena nasi padang bang," ucapnya tertahan. Suaranya bergetar menahan tangis. Wajahnya berseri meski lelah tercetak jelas.
Apa Yang Membuat Nasi Padang Begitu Berarti?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Tapi jawabannya dalam. Bukan soal rasa semata. Melainkan kenangan dan normalitas yang hilang.
Selama empat belas hari, pengungsi hanya mendapat mie instan. Kadang nasi dengan lauk seadanya. Air bersih pun terbatas. Apalagi pilihan menu. Rutinitas makan berubah jadi ritual bertahan hidup.
"Macam hari raya aku bang, macam dapat baju baru," lanjut perempuan itu. Matanya berbinar menatap hidangan. Sesekali ia tersenyum sendiri. Kebahagiaan kecil yang jadi besar di situasi sulit.
Akun Instagram @reziguci membagikan momen tersebut. Video berdurasi singkat itu langsung viral. Ribuan netizen ikut terharu. Komentar berdatangan berisi dukungan dan simpati.
Mengapa Makanan Instan Jadi Menu Utama Pengungsi?
Logika bencana memang kejam. Distribusi bantuan harus cepat. Makanan instant jadi pilihan praktis. Mudah disimpan, tahan lama, dan cepat disajikan.
"Biasanya makan mi," ungkap perempuan itu menjelaskan rutinitas di posko. Setiap hari menu sama. Mie rebus di pagi hari. Mie goreng di siang hari. Kadang nasi dengan telur ceplok.
Data dari posko menunjukan fakta mengejutkan. Lebih dari 3.000 pengungsi tersebar di lima titik. Pasokan makanan bergantung pada donasi. Tim relawan bekerja tanpa henti. Tapi pilihan tetap terbatas.
Kondisi dapur umum juga pas-pasan. Kompor gas terbatas jumlahnya. Bahan makanan segar susah didapat. Akses jalan masih terputus di beberapa titik. Maka makanan instan jadi penyelamat.