@sulawesitodaycom Persatuan Menembak Indonesia (Perbakin) Parigi Moutong ditetapkan sebagai cabang olahraga unggulan oleh KONI setempat menjelang Porprov Sulawesi Tengah 2026. Sekretaris Umum KONI Parigi Moutong, Supardin, memuji konsistensi Perbakin dalam melakukan regenerasi atlet senior dan junior yang kontras dengan cabang olahraga lain. Meskipun menghadapi pembatalan agenda akibat efisiensi anggaran nasional dan belum menerima bantuan dana sepeser pun dari pemerintah daerah, Perbakin tetap aktif beroperasi menggunakan dana mandiri pengurus.
♬ suara asli - Menurut Sulawesitoday - Menurut Sulawesitoday
Sulawesitoday - KONI Parigi Moutong menetapkan Persatuan Menembak Indonesia sebagai salah satu cabang olahraga unggulan utama menuju Pekan Olahraga Provinsi Sulawesi Tengah. Organisasi ini dinilai sukses menjalankan program pembinaan atlet secara berkelanjutan di tingkat daerah.
"Perbakin ini adalah salah satu cabang olahraga unggulan kita sebenarnya di Kabupaten Parigi Moutong," ujar Sekretaris Umum KONI Parigi Moutong Supardin pada Jumat, 17 Juli 2026.
Status unggulan tersebut bukan tanpa alasan kuat. Rekam jejak prestasi organisasi ini sudah terbukti hingga tingkat nasional sejak mengirimkan perwakilannya bertanding pada Pekan Olahraga Nasional di Papua.
Regenerasi atlet menjadi pembeda utama kelompok ini. Langkah tersebut kontras dengan sejumlah cabang olahraga lain yang ditegur otoritas daerah karena tidak memiliki atlet pembinaan.
Manajemen internal yang sehat menjadi kunci utama keberhasilan. Otoritas olahraga kabupaten melihat adanya keseriusan besar dari pengurus menembak dalam mengelola organisasi serta menyiapkan atlet senior maupun junior.
Baca Juga: Target PON 2028 KONI Sulawesi Tengah Siapkan 20 Cabang Olahraga Unggulan di Porprov 2026
Tantangan berat kini justru datang dari sektor finansial. Kebijakan efisiensi anggaran secara nasional mulai berdampak langsung pada pemotongan dana bantuan operasional olahraga di daerah.
"Atlet Pelatnas saja hampir 40 persen dikembalikan ke daerah masing-masing akibat dampak efisiensi anggaran nasional," kata Supardin menjelaskan kondisi riil dunia olahraga.
Dampak kebijakan pusat tersebut bahkan membatalkan sejumlah agenda penting. Pengiriman atlet menembak ke kejuaraan nasional di Jawa Tengah terpaksa batal akibat kendala biaya pemusatan latihan.
Kemandirian pengurus menjadi penyelamat muka daerah. Seluruh operasional latihan dan persiapan kompetisi saat ini terpaksa ditanggung penuh secara swadaya tanpa sokongan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
"Sampai hari ini satu rupiah pun bantuan dari pemerintah melalui KONI belum ada untuk cabang olahraga," ucap Supardin mengakhiri pembicaraan.