Sulawesitoday - Perjalanan pendakian ke Gunung Gandang Dewata yang dilakukan oleh Taufiq Abubakar (47) bersama tujuh rekannya berujung pada situasi yang mengancam nyawa. Taufiq, yang semula mendaki dengan semangat bersama teman-temannya pada Sabtu, 5 Oktober, harus tertahan di pos 6 selama empat hari akibat kondisi kesehatannya yang memburuk.
"Menurut informasi, sakit ambeien, dan ia sangat kesakitan sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan," ujar Gusti Hermiawan, Kepala Pelaksana BPBD Mamasa, yang terlibat dalam proses evakuasi.
Baca Juga: Krisis Makanan! Pendaki di Pos 6 Gunung Gandang Dewata Bertahan Hanya dengan 3 Bungkus Mie Instan
Ketika tiba di pos 6 pada Jumat, 12 Oktober, Taufiq mulai merasakan sakit yang luar biasa. Rekan-rekannya pun terpaksa turun gunung lebih dahulu untuk mencari pertolongan, sementara ia ditemani oleh Jhiwar Jhulnaintin (19) yang setia menjaga Taufiq di tempat tersebut. Ketika evakuasi dimulai, tim SAR segera bergerak cepat, mengingat kondisi makanan mereka yang semakin menipis.
"Sejak dua hari lalu mereka hanya punya sisa tiga bungkus mie instan, jadi tim kami bawa tambahan makanan dan obat-obatan," tambah Gusti.
Selama empat hari, Taufiq harus bertahan dalam kondisi kesehatan yang semakin menurun. Ambeien yang ia derita ternyata sudah memasuki stadium empat, menyebabkan rasa sakit yang menyulitkan dirinya untuk bergerak. Meskipun dalam kondisi terinfus, Taufiq tetap berusaha berjalan sedikit demi sedikit hingga akhirnya bertemu tim evakuasi di pos 5. Ini menunjukkan betapa gigihnya perjuangan Taufiq untuk bertahan hidup di alam bebas.
Proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati. Tim SAR yang melibatkan personel medis dari Kodim Mamasa memberikan perawatan darurat di lokasi.
Baca Juga: Ingin Lolos SKD CPNS? Simak Pesan Penting dari Kakanwil Kemenkumham Sulteng, Hermansyah Siregar
"Korban sudah diinfus dan diberikan obat anti nyeri oleh tim medis yang ikut naik ke atas," jelas Muh Rizal, Kepala Basarnas Mamuju. Namun, perjalanan turun tidaklah mudah. Taufiq harus ditandu saat menuruni gunung, meskipun menjelang posko utama ia bersikeras ingin berjalan sendiri, meski dalam kondisi terinfus.
"Terakhir, beberapa ratus meter sebelum pos utama, dia mampu berjalan kaki," lanjut Gusti, menggambarkan semangat pantang menyerah dari Taufiq.
Sesampainya di posko utama Desa Tondok Bakaru, Taufiq langsung dibawa ke rumah sakit untuk penanganan medis lebih lanjut. Jhiwar, rekan yang setia menemaninya, tiba lebih dahulu dengan kondisi baik-baik saja. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa pendakian gunung selalu memiliki risiko yang perlu diwaspadai, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
Kisah dramatis ini bukan hanya tentang bagaimana Taufiq selamat, tetapi juga tentang kerjasama tim evakuasi yang sigap, dan keteguhan hati seorang pendaki dalam menghadapi tantangan hidup yang berat di alam liar.