Langkah konkret juga telah diambil oleh pihak kecamatan untuk meredam ketegangan. Pemdes Lepak Timur diminta segera menghubungi pemilik akun Facebook yang pertama kali mengunggah video tersebut dan meminta untuk menghapusnya guna menghindari berkembangnya sentimen negatif di masyarakat.
Meski video sudah dihapus, gelombang kecaman dan pembicaraan mengenai kejadian ini tetap berlanjut di dunia maya, terutama di kalangan netizen yang mempertanyakan bagaimana sebuah acara keagamaan bisa berubah menjadi sesuatu yang dianggap tidak menghormati nilai-nilai agama.
Insiden ini menjadi pelajaran penting bagi penyelenggara acara keagamaan di mana pun. Sebuah kelalaian kecil dalam perencanaan bisa berdampak besar pada persepsi publik, apalagi di era digital saat ini di mana informasi dengan cepat tersebar melalui media sosial. Kesalahan dalam mengelola acara yang mengusung nama besar agama seperti STQ bisa berakibat fatal, tidak hanya merusak reputasi penyelenggara, tetapi juga menimbulkan ketidaknyamanan di kalangan masyarakat.