Sulawesitoday - Minggu pagi (20/10/2024), tragedi memilukan terjadi di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo. Pesawat maskapai SAM Air dengan nomor registrasi PK-SMH jatuh hanya beberapa ratus meter dari Bandara Panua. Empat orang di dalamnya tewas, termasuk kapten, co-pilot, teknisi, dan satu penumpang. Kejadian ini mengguncang komunitas setempat dan memicu pertanyaan: apa yang sebenarnya terjadi di menit-menit terakhir sebelum pesawat menghantam tanah?
Menurut data yang diterima, pesawat itu berangkat dari Bandara Djalaluddin, Gorontalo, pukul 07:03 WITA. Hanya setengah jam kemudian, pesawat itu dijadwalkan mendarat di Bandara Panua. Namun, sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Dalam kondisi cuaca yang berawan, pesawat mendekati runway 27, tetapi melakukan manuver "go-around" — istilah yang digunakan saat pesawat gagal mendarat dan terpaksa mencoba lagi. Pada pukul 07:35 WITA, saat pesawat berbelok ke kiri, semuanya berakhir tragis.
Baca Juga: Pesawat SAM Air Jatuh di Gorontalo: Apakah Cuaca Buruk Penyebab Kecelakaan Fatal?
Apakah cuaca buruk yang menjadi faktor utama? Atau ada masalah teknis yang menyebabkan go-around itu? Masih ada banyak pertanyaan yang belum terjawab. Pihak Bandara Djalaluddin menyatakan masih mengumpulkan informasi mengenai insiden ini, tetapi beberapa dugaan awal mengarah pada kemungkinan masalah prosedur pendaratan. Pesawat DHC6 yang dioperasikan SAM Air dikenal tangguh, terutama untuk jalur perintis. Jadi, apa yang salah?
Melakukan go-around bukanlah hal yang langka dalam dunia penerbangan, terutama jika faktor-faktor seperti visibilitas atau lintasan pendaratan tidak ideal. Namun, fakta bahwa pesawat jatuh sesaat setelah manuver tersebut menunjukkan bahwa ada faktor lain yang mempengaruhi.
Baca Juga: Persaingan Sengit! Hanya 130 Peserta dari 6.959 yang Lolos di SKD CPNS Kemenkumham Sulteng
“Kami masih menyelidiki apakah faktor cuaca atau masalah teknis yang membuat pesawat tak bisa kembali ke jalur yang aman,” ujar seorang pejabat bandara yang enggan disebutkan namanya.
Ini bukan kali pertama pesawat kecil mengalami masalah dalam fase pendaratan. Bandara-bandara kecil, seperti Panua, kadang menghadapi kendala operasional yang berbeda dengan bandara besar. Namun, dalam kasus ini, pesawat sudah begitu dekat dengan bandara ketika kecelakaan terjadi. Dengan jarak hanya 300 meter dari runway, hampir tidak mungkin bagi kru untuk menyelamatkan situasi.
Baca Juga: Persaingan Sengit! Hanya 130 Peserta dari 6.959 yang Lolos di SKD CPNS Kemenkumham Sulteng
Semua korban, termasuk Capt. M. Saefurubi dan First Officer M Arthur, telah dievakuasi ke Puskesmas Motolohu. Kehilangan ini tentu membawa duka yang mendalam bagi keluarga dan kolega mereka. Namun, selain duka, insiden ini juga menimbulkan urgensi untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Prosedur penerbangan, meskipun sudah diatur dengan ketat, terkadang tetap tidak bisa menghindarkan kita dari risiko.
Dengan penyelidikan yang masih berlangsung, kita hanya bisa berharap agar penyebab insiden ini segera terungkap. Yang pasti, setiap kecelakaan seperti ini menjadi pengingat bahwa di dunia penerbangan, setiap detik sangatlah berharga.