berita

Makassar Pimpin Kasus DBD, Sulsel Tercatat 4.975 Insiden dan 20 Kematian di 2024

Jumat, 15 November 2024 | 19:45 WIB
Kasus DBD di Sulsel melonjak 84% hingga Oktober 2024. Anak-anak paling rentan, kesadaran lingkungan rendah jadi faktor utama. (Dwi Rahayu Putri)

Sulawesitoday - Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Sulawesi Selatan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Hingga Oktober 2024, sebanyak 4.975 kasus dilaporkan dengan 20 orang meninggal dunia. Angka ini hampir dua kali lipat dari tahun 2023 yang hanya mencatat 2.701 kasus dan 8 kematian.

Peningkatan signifikan ini, menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulsel Ishaq Iskandar, dipengaruhi oleh perubahan iklim dan rendahnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan.

Baca Juga: Misteri Tewasnya Chika di Trans Sulawesi, Bekas Luka di Leher dan Dada Picu Pertanyaan Besar

"Insidensi kasus DBD dipengaruhi iklim dan lingkungan. Umumnya meningkat pada saat curah hujan tinggi," katanya.

Tren lonjakan kasus paling parah terjadi pada awal tahun, dengan puncaknya di Februari 2024 ketika 866 kasus dilaporkan, dan tiga nyawa melayang. Sayangnya, angka kematian tertinggi justru tercatat pada Mei 2024 dengan enam kematian, meski jumlah kasus di bulan itu lebih rendah, yakni 485 kasus.

Baca Juga: MK Putuskan Pilkada Ulang Jika Kotak Kosong Menang, Komisi II DPR Siapkan Aturan Baru

Jika dilihat berdasarkan usia, anak-anak usia 5-14 tahun menjadi kelompok paling rentan, menyumbang 2.194 kasus dan 9 kematian.

Makassar menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yaitu 565 kasus. Namun, menariknya, tidak ada korban jiwa di kota ini. Sebaliknya, daerah-daerah seperti Sidrap, Maros, dan Bulukumba mencatat angka kasus yang tinggi, masing-masing melebihi 300 kasus, dengan beberapa di antaranya berujung fatal.

Baca Juga: Kematian Misterius Chika di Sulsel, Polisi Periksa Sopir Travel dan Teman Sekendaraan

Salah satu faktor yang mungkin memengaruhi adalah mobilitas masyarakat yang tinggi dan minimnya upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara berkala.

"Kesadaran masyarakat akan pentingnya melakukan PSN secara rutin masih rendah," ungkap Ishaq. Kampanye gerakan 3M Plus, yang meliputi menguras penampungan air, menutup tempat air, dan mendaur ulang barang bekas, terus disosialisasikan. Namun, efektivitasnya masih menjadi tantangan besar di lapangan.

Baca Juga: Tragis! Guru SMP di Raja Ampat Diserang Siswa di Rumah Dinas Tengah Malam

Untuk menanggapi situasi ini, Dinkes Sulsel telah mengambil langkah seperti memperkuat koordinasi lintas sektor dan menerbitkan surat edaran kepada pemerintah daerah untuk meningkatkan antisipasi selama musim hujan. Meski begitu, peran aktif masyarakat tetap menjadi kunci utama dalam pengendalian DBD.

"Bila ada anggota keluarga yang demam, segera periksakan ke fasilitas kesehatan," tegas Ishaq.

Halaman:

Tags

Terkini