berita

Diterjang Longsor, Kisah Guru di Lebak Tetap Berjuang Mengajar Meski Penuh Lumpur

Jumat, 15 November 2024 | 21:14 WIB
Guru di Lebak hadapi medan longsor demi pendidikan anak bangsa. Dedikasi luar biasa ini menuai pujian warganet. (Dwi Rahayu Putri)

Sulawesitoday - Mungkin sulit dipercaya bahwa di tengah derasnya arus modernisasi, masih ada mereka yang harus melawan kerasnya alam untuk sebuah tujuan mulia. Sebuah video yang viral di Instagram pekan ini memperlihatkan perjuangan dua guru dari Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, yang berjuang melewati jalanan tertutup longsor demi mengajar.

Ini bukan sekadar kisah tentang lumpur dan jalan rusak, tapi tentang dedikasi yang sering kali luput dari perhatian kita.

Baca Juga: Kartu Sulteng Sejahtera Gagal, Warga Kasimbar Ramai-ramai Beralih Dukung ke Ahmad Ali

Video tersebut, diunggah oleh akun Info Rangkasbitung pada Jumat (15/11/2024), menggambarkan situasi dramatis di Jalan Cidikit Girang. Dua guru, Aris dan Nana, terlihat berusaha keras melintasi medan berlumpur yang sulit dilalui.

Dalam video itu, Aris bahkan tampak berlumuran tanah hingga seorang wanita berkomentar, “Aris sampai kotor, buru bersihkan dulu, biar basah sekalian.” Kalimat sederhana ini terasa begitu manusiawi, sekaligus menggambarkan betapa beratnya perjuangan mereka.

Baca Juga: Tunjangan Guru Dijarah, Kejari Minahasa Tetapkan MS sebagai Tersangka Korupsi

Kondisi jalan yang mereka lalui benar-benar memprihatinkan, dipenuhi material longsor yang membahayakan. Namun, Aris dan Nana tetap melangkah dengan semangat. Bahkan, dalam video tersebut, Nana terlihat membantu pengendara motor yang terjebak. Dedikasi seperti ini jarang ditemukan di tengah rutinitas kehidupan yang semakin individualistis.

Aksi mereka segera menuai banyak pujian di media sosial. Banyak warganet yang menganggap bahwa apa yang dilakukan kedua guru ini adalah bentuk pengabdian luar biasa.

Baca Juga: Sabu Asal Malaysia dalam Bungkus Milo, Polisi Tangkap Kurir di Jalanan Samarinda

"Mereka ini pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya," tulis seorang pengguna Instagram di kolom komentar. Namun, di balik semua itu, pertanyaannya: sampai kapan mereka harus berjuang sendiri seperti ini?

Kisah Aris dan Nana mengingatkan kita bahwa pendidikan di daerah terpencil masih penuh tantangan. Infrastruktur yang buruk, akses yang sulit, hingga risiko keselamatan menjadi ‘rutin’ bagi mereka.

Baca Juga: Makassar Pimpin Kasus DBD, Sulsel Tercatat 4.975 Insiden dan 20 Kematian di 2024

Tetapi, mereka tetap memilih untuk hadir setiap hari, memastikan anak-anak di SDN 5 Cidikit tetap mendapatkan hak mereka untuk belajar. Barangkali, ini saatnya kita bertanya pada diri sendiri, sudah cukupkah kita mendukung mereka?

Aksi heroik ini tak hanya menyentuh hati, tetapi juga membuka mata. Jika Anda tersentuh, mungkin sudah waktunya untuk berbuat lebih: menyuarakan perbaikan akses pendidikan di daerah terpencil. Karena di balik setiap langkah mereka yang melewati lumpur, ada masa depan anak-anak Indonesia yang sedang mereka perjuangkan.

Tags

Terkini