Sulawesitoday - Angka PHK di Indonesia terus meningkat, dengan total 64.288 pekerja kehilangan pekerjaan per pertengahan November 2024. Lonjakan ini menandakan situasi yang kian sulit di sektor industri domestik. Berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan, terjadi peningkatan dari angka akhir Oktober 2024, yaitu 63.947 pekerja yang terdampak.
Fakta ini memunculkan banyak pertanyaan tentang stabilitas ekonomi dalam negeri, terutama karena sektor-sektor kunci seperti Industri Pengolahan, Aktivitas Jasa, dan Ritel menjadi penyumbang utama angka PHK.
Baca Juga: MK Perketat Larangan Cawe-cawe TNI-Polri dalam Pilkada, Sanksi Baru Siap Menanti
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, Indah Anggoro Putri, menegaskan bahwa banyak perusahaan masih belum mampu pulih dari guncangan ekonomi pascapandemi Covid-19. Selain itu, tekanan global seperti perubahan kebijakan perdagangan dan perang internasional memperburuk keadaan.
“Banyak usaha yang belum mampu pulih sepenuhnya dari dampak pandemi, ditambah dengan persaingan yang semakin ketat,” kata Indah.
DKI Jakarta Pimpin Daftar Provinsi dengan PHK Tertinggi
DKI Jakarta mencatat jumlah PHK terbanyak di Indonesia, mencapai 14.501 tenaga kerja atau setara 22,68% dari total korban PHK di seluruh Indonesia pada tahun 2024. Fenomena ini bukan sekadar angka, tapi menggambarkan betapa rapuhnya pasar tenaga kerja di pusat industri terbesar di Indonesia ini.
Baca Juga: Kepolisian Pastikan Keamanan Debat Publik Ketiga, Ini Lokasi Resmi Nobar di Palu
Di luar DKI Jakarta, provinsi-provinsi lain di Pulau Jawa juga mengalami hal serupa. Jawa Tengah dan Banten masuk dalam daftar dengan angka yang cukup signifikan, masing-masing mencatat 12.489 dan 10.702 korban PHK. Lima besar provinsi yang terdampak terbanyak semuanya berada di Pulau Jawa, mencerminkan bagaimana guncangan ekonomi nasional terutama berdampak pada pusat-pusat industri utama di negara ini.
"Angka-angka ini memperlihatkan tantangan yang berat bagi industri kita di tengah perubahan pasar global yang cepat," ungkap Indah.
Mengapa PHK Terus Meningkat?
Kenaikan angka PHK ini bukan tanpa sebab. Sektor tekstil dan pengolahan, yang sebelumnya menjadi tulang punggung industri, kini menjadi sektor dengan korban PHK terbesar, yakni mencapai lebih dari 28 ribu tenaga kerja. Situasi ini diperparah oleh tren global yang bergeser ke arah digitalisasi dan perubahan preferensi konsumen yang semakin dinamis.
Baca Juga: Pernikahan Rizky Febian dan Mahalini Tersandung Polemik, Sidang Isbat Jadi Sorotan
Sejumlah perusahaan ritel, terutama yang bergantung pada perdagangan tradisional, juga terdampak. Mereka menghadapi tantangan dari pergeseran belanja online, yang membuat mereka kesulitan bertahan. Lebih dari 8 ribu pekerja di sektor ritel dan perdagangan bebas terpaksa kehilangan pekerjaan akibat restrukturisasi perusahaan dan efisiensi operasional.
Upaya Pemerintah dalam Menangani Dampak PHK
Pemerintah berusaha meminimalkan dampak sosial dari PHK massal ini. Melalui program Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) yang dikelola BPJS Ketenagakerjaan, para korban PHK diberikan akses kepada pelatihan kerja dan bantuan keuangan sementara. Namun, efektivitas program ini masih menjadi bahan perdebatan di kalangan analis ekonomi. Apakah bantuan tersebut cukup untuk membantu para pekerja kembali masuk ke pasar tenaga kerja?
Baca Juga: 6 Jubir Baru Kabinet Prabowo: Siapa Mereka dan Apa Peran Besarnya?