Sulawesitoday - Menjelang hari pencoblosan Pilkada Sulawesi Tengah, narasi politik memanas, tetapi bukan karena adu gagasan. Fenomena kampanye hitam dan penyebaran konten provokatif kini mencuat sebagai sorotan utama. Hengky Idrus Mapangile, Koordinator wilayah Parigi Moutong untuk pasangan Ahmad Ali dan Abdul Karim Aljufri, dengan tegas menyatakan keprihatinannya.
“Kami menyaksikan strategi-strategi tidak sehat. Salah satunya, dugaan menaikkan elektabilitas dengan pola menzalimi diri sendiri. Ini praktik yang jelas merusak demokrasi,” ucap Hengky dalam pernyataannya. Tuduhan ini menyasar pihak-pihak tertentu yang dianggap menggunakan video dan selebaran negatif untuk menciptakan citra seolah-olah menjadi korban.
Baca Juga: Skema Besar Judi Online Terbongkar: 3455 Rekening dan 5146 Website Dibekukan
Seberapa efektif strategi semacam ini? Dalam praktiknya, "kampanye korban" sering memanfaatkan simpati publik, terutama di masyarakat dengan tingkat literasi politik yang bervariasi. Sayangnya, pendekatan ini sering kali tidak membawa manfaat jangka panjang.
Namun, apa yang benar-benar mengkhawatirkan adalah bagaimana warga biasa turut diseret dalam pusaran intrik ini. Hengky menyebut, ada bukti bahwa kelompok tertentu diduga mengarahkan masyarakat untuk menyebarkan video provokatif di beberapa daerah strategis. Langkah ini, menurut Hengky, sama sekali tidak mendidik.
Baca Juga: Rohidin Mersyah Terjerat Kasus Gratifikasi, Ruang Kerja Gubernur Bengkulu dalam Pengawasan KPK
“Bagaimana kita bisa maju kalau metode seperti ini terus dibiarkan? Demokrasi itu tentang gagasan, bukan manipulasi emosi,” tegasnya. Pernyataan ini menggambarkan keresahan bahwa kompetisi politik yang seharusnya bermakna kini hanya menjadi ajang pencitraan.
Sementara itu, Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah sedang melakukan penyelidikan terkait kasus ini. Sayangnya, hingga kini belum ada informasi detail tentang siapa yang berada di balik strategi kampanye hitam tersebut. Meski demikian, kehadiran kampanye negatif seperti ini mencederai semangat demokrasi yang sehat.
Baca Juga: Nama Tercoreng Tanpa Bukti, Supriyani Berjuang Pulihkan Harga Diri dan Laporkan Balik
Masa tenang yang biasanya menjadi ruang refleksi bagi pemilih justru berubah menjadi panggung intrik. Bagi masyarakat Sulawesi Tengah, ini adalah momentum untuk menilai siapa pemimpin yang benar-benar layak. Hengky berharap, Pilkada kali ini dapat mengedepankan debat visi dan misi, bukan drama yang tidak substansial.
“Setiap kandidat harusnya fokus pada visi mereka untuk membangun daerah, bukan mencari simpati dengan cara-cara kotor,” imbuhnya. Seruan ini menjadi pengingat bahwa di tengah kepentingan politik, rakyat tetaplah pemegang kekuasaan sejati.
Baca Juga: Superapp Wondr BNI Error di Jam Sibuk: Netizen Mengeluh, Manajemen Buka Suara
Pada akhirnya, demokrasi akan diuji. Pilkada Sulawesi Tengah ini adalah cerminan, apakah kita siap memilih dengan kepala dingin atau terbawa arus manipulasi. Hengky menutup dengan imbauan: “Hentikan intrik. Biarkan masyarakat memilih dengan jernih.”