berita

Rp8 Miliar di Meja, Maruarar Sirait Tantang Publik untuk Buru Harun Masiku

Kamis, 28 November 2024 | 15:31 WIB
Maruarar Sirait tawarkan Rp8 miliar untuk informasi soal Harun Masiku. Langkah ini simbol frustrasi publik pada lemahnya penegakan hukum. (Amirulah)

Sulawesitoday - Saat politikus sekaligus Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, mengumumkan sayembara Rp8 miliar untuk menangkap Harun Masiku, banyak yang terkejut. Langkah ini jelas bukan hal biasa di dunia politik Indonesia.

Tetapi, apa yang mendorongnya? Sirait menegaskan bahwa hadiahnya berasal dari kantong pribadinya, sebuah tindakan yang jarang—jika bukan pertama kali—dilihat dalam kasus sebesar ini.

Baca Juga: Quick Count JSI Pilkada Gowa 2024, Hati Damai Mantap Memimpin dengan 53,02 Persen Suara

“Ini bukan tentang uang,” katanya dalam sebuah wawancara pekan lalu. “Ini tentang prinsip bahwa tidak ada seorang pun yang boleh kebal hukum.” Pernyataan ini mencerminkan rasa frustrasinya terhadap lambannya penyelesaian kasus Masiku, buronan yang menghilang sejak Januari 2020.

Publik Didorong untuk Berperan

Inisiatif ini tidak hanya memancing perhatian publik, tetapi juga menuai berbagai respons. Banyak yang melihat langkah ini sebagai sinyal bahwa penegakan hukum di Indonesia membutuhkan dorongan serius dari berbagai pihak. Tentu, tawaran Rp8 miliar bukanlah angka kecil. Ini menjadi bukti betapa seriusnya Sirait dalam memprioritaskan transparansi dan keadilan.

Baca Juga: Chaidir-Muetazim Unggul Telak: Quick Count Pilkada Maros 2024 Sentuh 80 Ribu Suara

Namun, muncul juga skeptisisme. Beberapa pihak mempertanyakan apakah sayembara seperti ini adalah langkah yang tepat, atau justru bentuk pengalihan isu. Mengingat Harun Masiku terlibat dalam kasus besar terkait suap untuk kursi DPR, tindakan ini menimbulkan pertanyaan: apakah sistem hukum terlalu lemah hingga perlu bantuan dari masyarakat untuk menegakkan keadilan?

Masiku dan Polemiknya

Sejak tahun 2020, Harun Masiku menjadi simbol kegagalan penegakan hukum di Indonesia. Terlibat dalam kasus suap anggota KPU untuk kursi DPR periode 2019–2024, Masiku menghilang begitu saja saat kontroversi mulai memanas. Tak sedikit pihak yang menduga adanya perlindungan dari "aktor besar" yang memungkinkan buronan ini bertahan selama hampir empat tahun tanpa jejak.

Baca Juga: Chaidir-Muetazim Unggul Telak: Quick Count Pilkada Maros 2024 Sentuh 80 Ribu Suara

Bagi Sirait, inisiatif ini lebih dari sekadar menangkap seorang buron. “Ini adalah pesan bahwa masyarakat punya kekuatan untuk memengaruhi perubahan,” tambahnya. Tetapi, tantangan besar tetap ada: bagaimana menjaga momentum ini agar tidak berhenti pada sayembara semata?

Apa Selanjutnya?

Langkah Sirait menarik perhatian nasional, tetapi tantangan utamanya adalah memastikan tindakan konkret dari lembaga penegak hukum. Sayembara sebesar ini hanya akan berarti jika ada upaya kolektif, baik dari masyarakat maupun otoritas, untuk memprioritaskan kasus ini.

Halaman:

Tags

Terkini