• Kamis, 4 Juni 2026

Titik Nadir Kebebasan Berpendapat, Pola Serangan Digital dan Fisik Intai Pengkritik di Media Sosial

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Kamis, 1 Januari 2026 | 19:38 WIB
Sherly Annavita mengalami teror fisik dan digital usai suarakan kritik bencana Sumatra. Benarkah ada orkestrasi di balik intimidasi ini?
Sherly Annavita mengalami teror fisik dan digital usai suarakan kritik bencana Sumatra. Benarkah ada orkestrasi di balik intimidasi ini?

Sulawesitoday - Ruang digital yang semestinya menjadi palagan gagasan, mendadak berubah menjadi panggung intimidasi yang lamat-lamat menyentuh ranah privasi.

Sherly Annavita, seorang pemberi pengaruh dengan jutaan pengikut, kini harus berhadapan dengan kenyataan pahit bahwa kritik memiliki konsekuensi fisik yang nyata.

Rentetan teror ini bermula ketika Sherly mulai vokal menyuarakan kegelisahannya atas penanganan bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat.

Melalui berbagai program di layar kaca, ia membedah carut-marut penanggulangan bencana di tanah kelahirannya tersebut dengan nada yang lugas.

Namun, respons yang ia terima bukanlah diskursus tandingan, melainkan rangkaian serangan yang tampak terorganisasi secara rapi.

Mobil pribadinya ditandai dengan coretan piloks merah, sementara kediamannya dilempari kantong plastik berisi telur busuk, sebuah simbol penghinaan sekaligus ancaman.

Sebelum aksi vandalisme itu terjadi, Sherly mengaku telah lebih dulu dihujani pesan singkat berisi makian dan ancaman pembunuhan melalui media sosial.

Akun-akun anonim, yang beberapa di antaranya menggunakan atribut politik tertentu, melakukan serangan serempak yang sulit dinilai sebagai sebuah kebetulan semata.

“Sangat sulit untuk mengatakan bahwa aksi teror ini tidak diorkestrasi atau tidak ada pihak yang memerintahkan,” tulis Sherly dalam pernyataan sikapnya yang diunggah pada akhir Desember lalu.

Baginya, eskalasi gangguan ini meningkat tajam tepat setelah ia tampil di sejumlah media nasional untuk menyuarakan aspirasi warga Sumatra.

Fenomena ini seolah mengulang memori kelam tahun 2019, di mana ia juga mengalami tekanan serupa usai terlibat dalam debat politik yang panas.

Sherly menegaskan bahwa sikap kritisnya terhadap kebijakan publik janganlah dimaknai sebagai deklarasi permusuhan terhadap otoritas negara.

Ia menekankan bahwa dirinya, dan kawan-kawan influencer lainnya, bukanlah musuh negara maupun lawan personal dari Presiden Prabowo Subianto.

Suara-suara yang mereka lantangkan adalah bagian dari fungsi kontrol sosial yang dijamin oleh konstitusi di tengah situasi darurat bencana.

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini