• Jumat, 3 Juli 2026

Ramai Netizen Berkomentar Soal Anak dengan Gangguan Jiwa di Makassar Aniaya Ibunya Hingga Luka Parah, Pentingnya Tindakan Dini

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Rabu, 25 September 2024 | 12:30 WIB
Penganiayaan oleh anak dengan gangguan jiwa di Makassar tegaskan pentingnya penanganan kesehatan mental. Cari tahu bagaimana mencegahnya! #MentalHealthAwareness (Nur Rafiqa)
Penganiayaan oleh anak dengan gangguan jiwa di Makassar tegaskan pentingnya penanganan kesehatan mental. Cari tahu bagaimana mencegahnya! #MentalHealthAwareness (Nur Rafiqa)

Sulawesitoday - Kekerasan dalam rumah tangga sering kali berakar pada masalah yang lebih dalam, seperti kondisi kesehatan mental yang tidak ditangani. Kasus penganiayaan yang terjadi di Jalan Tinumbu, Makassar, pada 24 September 2024 ini, kembali menegaskan betapa pentingnya penanganan kesehatan mental yang serius.

Pelaku, Sarniaty, seorang perempuan 39 tahun yang diketahui mengalami gangguan jiwa, menyerang ibunya, Siti Syamsiah, 64 tahun, dengan parang. Sang ibu kini terbaring di rumah sakit dengan luka serius di seluruh tubuhnya.

Peristiwa ini mengejutkan banyak pihak, terutama tetangga dan orang-orang yang mengenal keluarga tersebut. Menurut kesaksian Hakim, ayah dari pelaku, Sarniaty telah lama menunjukkan gejala gangguan jiwa dan sering kali marah tanpa alasan yang jelas.

"Kami selalu mengalah kepadanya. Dia anak pertama kami, tapi sering marah-marah, dan kami tak berdaya," kata Hakim, dengan nada penuh penyesalan.

Kejadian bermula saat korban menegur Sarniaty untuk membersihkan rumah. Teguran yang sederhana ini ternyata memicu reaksi yang sangat agresif. Pelaku yang tidak menerima teguran langsung mengambil parang dan menyerang ibunya. Serangan brutal ini menyebabkan Siti mengalami luka parah, termasuk patah tulang di pergelangan tangan dan siku, serta beberapa luka terbuka di wajah dan lengan.

Baca Juga: Detik-Detik Mencekam! Mobil SIM Keliling Terbakar Hebat di Maros Hingga Hangus dalam Sekejap

Apa yang terjadi di Makassar ini bukan hanya soal kekerasan rumah tangga, tetapi juga tentang betapa kritisnya penanganan kesehatan mental di Indonesia. Sarniaty diketahui telah lama mengalami gangguan jiwa, namun dia masih tinggal di rumah bersama orang tuanya tanpa pengawasan medis yang ketat. Situasi ini menjadi bom waktu yang akhirnya meledak dengan kekerasan yang tidak bisa dihindari.

Sering kali dihadapkan pada cerita seperti ini. Masalahnya adalah, kita sering melihat orang dengan gangguan mental hanya sebagai masalah pribadi keluarga, padahal ini masalah sosial yang jauh lebih luas. Pusat rehabilitasi atau Rumah Sakit Jiwa (RSJ) sering kali dianggap sebagai pilihan terakhir, padahal mereka seharusnya menjadi tempat pertama yang dijadikan rujukan.

Netizen pun tak ketinggalan berkomentar atas kejadian ini. Beberapa menyesalkan kenapa keluarga tidak segera membawa Sarniaty ke RSJ. “Betul. Pelajaran berharga anak sakit jiwa dibawa ke RS, karena kita tidak tahu sewaktu-waktu bisa membahayakan. Sudah banyak loh buktinya,” tulis salah satu netizen. Ada juga yang menyayangkan lambannya tindakan dari pihak yang berwenang.

“Kenapa tidak ada yang cepat panggil polisi?” protes seorang pengguna media sosial.

Perlu dipahami bahwa dalam banyak kasus, keluarga merasa malu atau tidak siap menghadapi stigma sosial yang melekat pada gangguan jiwa. Inilah salah satu alasan mengapa Sarniaty tidak dirujuk ke rumah sakit lebih awal. Padahal, banyak bukti yang menunjukkan bahwa penanganan medis yang tepat dapat mengurangi risiko terjadinya kekerasan seperti ini.

Perlu diingat satu kasus serupa beberapa tahun yang lalu, di mana seorang anak dengan gangguan jiwa menyerang ayahnya. Ayahnya bertahan hidup, tapi luka batin yang dirasakan keluarga itu bertahan jauh lebih lama. Banyak keluarga yang terjebak dalam dilema ini: mengirim anggota keluarga mereka ke RSJ dianggap sebagai tindakan menyerah, sementara menjaga mereka di rumah bisa membawa bahaya yang tidak terduga.

Kita sering mengabaikan pentingnya deteksi dini dan penanganan yang tepat. Gangguan mental tidak boleh diperlakukan sebagai aib. Ini adalah kondisi medis yang butuh perhatian sama seperti penyakit fisik lainnya. Orang dengan gangguan jiwa seperti Sarniaty membutuhkan perawatan khusus, bukan pengabaian.

Dalam kasus ini, seandainya Sarniaty mendapatkan perawatan yang tepat sejak awal, mungkin tragedi ini bisa dihindari.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Artikel Terkait

Terkini