• Selasa, 21 Juli 2026

Ini Alasan Makam Bayu Adityawan Dibongkar: Mencari Bukti Baru Kasus Kekerasan Polisi?

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Rabu, 2 Oktober 2024 | 09:23 WIB
Kasus kekerasan polisi yang menewaskan Bayu Adityawan di Palu memasuki babak baru dengan ekshumasi makamnya. #keadilan #kasuskekerasan #ekshumasi (Nur Rafiqa)
Kasus kekerasan polisi yang menewaskan Bayu Adityawan di Palu memasuki babak baru dengan ekshumasi makamnya. #keadilan #kasuskekerasan #ekshumasi (Nur Rafiqa)

Sulawesitoday - Polisi di Palu, Sulawesi Tengah, berencana membongkar makam Bayu Adityawan untuk melakukan autopsi. Bayu, seorang tahanan Polresta Palu, meninggal dengan tanda-tanda kekerasan yang mencurigakan pada tubuhnya. Penganiayaan diduga dilakukan oleh dua oknum polisi berinisial Bripda CH dan Bripda M. Langkah ini dilakukan untuk mencari bukti tambahan yang bisa memperjelas penyebab kematian Bayu, yang menurut pihak keluarga menyimpan banyak tanda tanya.

"Ekshumasi jenazah Bayu diharapkan akan memberikan bukti-bukti tambahan guna memperjelas penyebab kematian tahanan tersebut," ungkap Kombes Parojahan Simanjuntak, Dirkrimum Polda Sulteng. Keluarga korban juga akan diikutsertakan dalam proses pembongkaran ini, sebuah langkah yang mungkin memberikan sedikit harapan keadilan bagi mereka. Menariknya, polisi juga menggandeng tim dokter independen untuk memastikan hasil autopsi ini tidak berpihak.

Baca Juga: Polda Sulteng Bentuk Tim Khusus Usut Kasus Tahanan Meninggal, Kompolnas Puji Transparansi

Langkah ini mungkin jadi awal yang penting dalam mengungkap apa yang sebenarnya terjadi. Sebab, jika ada bukti kuat, kasus ini bisa mengarah pada proses hukum yang lebih jelas. Kematian Bayu sendiri terjadi setelah ia ditahan terkait kasus KDRT.

Kekerasan yang Tak Termaafkan: Motif Berisik di Balik Tragedi

Tragisnya, motif di balik penganiayaan itu sangat sederhana—berisik. Ya, Bayu diduga dipukul karena dianggap terlalu berisik oleh kedua pelaku saat jam istirahat di sel. Kombes Rama Samtana Putra, Kabid Propam Polda Sulteng, menjelaskan bahwa Bripda CH memulai serangkaian tindakan kekerasan terhadap Bayu dengan menampar dan memukul wajahnya, yang akhirnya memuncak pada serangan lebih brutal.

Menurut Rama, "Bripda CH diduga menampar BA, kemudian korban dikeluarkan dari sel oleh Bripda M, sebelum Bripda CH kembali memukul wajah korban dua kali." Peristiwa ini bahkan disaksikan oleh beberapa tahanan lainnya. Penganiayaan terus berlanjut hingga pukulan ke ulu hati Bayu, sebuah aksi yang membuat tubuhnya lebam hingga akhirnya ia dilarikan ke rumah sakit.

Tidak ada yang membayangkan bahwa suara berisik dalam sel bisa berujung pada tindakan sekeji ini. Tapi di balik jeruji besi, kenyataan kadang lebih menyeramkan daripada imajinasi.

Apa Langkah Selanjutnya?

Hasil dari ekshumasi ini akan jadi kunci penting untuk memutuskan apakah ada langkah hukum lebih lanjut yang perlu diambil. Namun, satu hal yang jelas, kasus ini mengguncang kepercayaan publik terhadap integritas aparat keamanan di Palu. Bagaimana dua oknum polisi bisa lepas kendali seperti itu? Dan mengapa pengawasan internal di Polresta Palu seolah abai?

Dengan hasil autopsi nanti, kita akan melihat apakah ada petunjuk yang bisa membawa keadilan bagi Bayu dan keluarganya. Satu hal yang pasti, publik menanti dengan penuh harapan agar kasus ini tidak tenggelam begitu saja.

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Artikel Terkait

Terkini