Sulawesitoday - Air, kadang menyimpan cerita lebih lama dari manusia. Seperti kasus ini—seorang anak perempuan bernama Bintang (12), ditemukan tak bernyawa di bibir Pantai Mamboro Barat, Palu, Jumat pagi (2/5). Jasadnya mengambang tenang. Tapi kisah di baliknya, jauh dari itu.
Hari sebelumnya, Kamis (1/5), Bintang dilaporkan hilang. Bermain di pinggir Sungai Tulo, lalu tak kembali. Keluarga mulai resah sejak sore. Pencarian dilakukan cepat, menyisir sungai dengan harapan yang tinggal separuh.
Esok paginya, seorang warga bernama Agus (40), yang berniat mencari akar kayu di pantai, malah menemukan tubuh kecil mengapung, mengenakan baju dalam ungu dan celana pendek hijau. “Tengkurap. Saya kira boneka awalnya,” ujarnya pendek.
Agus melapor ke warga. Lalu ke Bhabinkamtibmas. Polisi datang. Lokasi segera dipasang garis kuning. Pukul 11.00 Wita, tubuh Bintang dibawa ke RS Bhayangkara untuk visum.
Kepala Polsek Tawaeli, Iptu Zulham Abdilah, memastikan prosedur diikuti. “Kami masih selidiki penyebab kematiannya,” ujarnya melalui pernyataan resmi.
Di rumah duka, Jamrun (45), ayah Bintang, menatap kosong. Ia memastikan korban adalah putrinya. Tak perlu tes DNA—seorang ayah tahu anaknya, bahkan dari napas terakhir yang tak terlihat.
Tapi ada yang tertinggal: bagaimana bisa anak yang hilang di sungai satu hari sebelumnya ditemukan jauh di pantai? Arus bisa menjelaskan. Tapi naluri juga bisa bertanya: apa tak ada yang lihat? Tak ada yang tahu?
Baca Juga: Polisi Air Ungkap Sindikat Bom Ikan di Perairan Paleleh Barat Buol
Polisi menyebut penyelidikan masih berlangsung. Saksi dimintai keterangan, forensik bekerja. Tapi di tengah prosedur yang dijalankan, keluarga hanya ingin satu hal: kejelasan. Karena kehilangan, tak bisa sembuh hanya dengan kata “wajar.”
Palu—kota yang sudah sering dihadapkan pada kehilangan—kembali diam. Kali ini, diam karena seorang anak bernama Bintang yang tak sempat pulang dari bermain.