Sulawesitoday - Hutan Kota, tempat orang biasa mencari ketenangan dan udara segar, nyaris jadi gelanggang bentrokan. Kamis petang (15/5/2025), dua kelompok pelajar tampak saling menatap tajam di balik rerimbunan.
Ada yang menggenggam balok, ada yang menyelipkan besi di balik jaket. Tapi belum sempat satu pun tangan diayunkan, langkah sepatu tim Resmob Ditreskrimum Polda Sulteng lebih dulu menginjak tanah.
Sepuluh pelajar berhasil diamankan. Sisanya — yang konon membawa senjata tajam — memilih lenyap ke dalam hutan. Tidak sempat memberi salam, apalagi alasan.
“Rencana perkelahian dua kelompok pelajar ini diinformasikan oleh masyarakat. Tim langsung bergerak,” ujar AKBP Sugeng Lestari, Kasubbid Penmas Polda Sulteng, keesokan harinya (16/5).
Sugeng bicara lugas, seperti mengabarkan bahwa nasi hampir saja jadi bubur — hanya saja buburnya bisa berdarah.
Kisahnya klasik: satu kelompok ingin merayakan kelulusan, satu lagi merasa tak diundang — atau merasa dilangkahi — lalu datang dengan tantangan.
Bukan lewat surat, tentu, tapi melalui pesan cepat yang dibaca cepat pula oleh ego-ego muda.
Dan seperti biasa, “pembinaan” menjadi penutup episode. Sepuluh pelajar didata, dimarahi mungkin, lalu dipulangkan. Sementara yang membawa sajam — kabur dan entah di mana.
Baca Juga: Parimo Gaungkan Pendidikan Inklusif PAUD: Bunda PAUD Wajib Bentuk Pokja dan Rencana Tahunan
Pertanyaan yang belum selesai: kalau ini bukan yang pertama, apakah akan jadi yang terakhir?
Polisi mengucapkan syukur. Warga diberi apresiasi. Situasi terkendali. Tapi Hutan Kota menyimpan jejak: bahwa bahkan perayaan bisa berubah jadi pertempuran, bila ego terlalu cepat tumbuh — dan logika lambat diajarkan.