• Selasa, 21 Juli 2026

Parimo Gaungkan Pendidikan Inklusif PAUD: Bunda PAUD Wajib Bentuk Pokja dan Rencana Tahunan

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Jumat, 16 Mei 2025 | 13:39 WIB
Sosialisasi PAUD inklusif Hardiknas 2025 di Parimo: ajang penting wujudkan pendidikan ramah, adaptif, dan merata untuk semua anak.
Sosialisasi PAUD inklusif Hardiknas 2025 di Parimo: ajang penting wujudkan pendidikan ramah, adaptif, dan merata untuk semua anak.

Sulawesitoday - Pendidikan inklusif anak usia dini menjadi sorotan utama dalam rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 di Kabupaten Parigi Moutong. Rabu (14/5/2025), Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parimo dipenuhi guru PAUD, Bunda PAUD kecamatan, dan desa/kelurahan, yang berkumpul untuk mengikuti Sosialisasi dan Pendampingan Pendidikan Inklusif Anak Usia Dini. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama Pemerintah Kabupaten Parimo melalui PKK Kabupaten, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta PKK Provinsi Sulawesi Tengah.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Sulawesi Tengah, Sry Nirwanti Bahasoan, membuka acara dengan menekankan urgensi inklusi sejak usia dini. “Ikuti kegiatan ini dengan rapi, tertib, dan penuh perhatian hingga selesai. Ilmu yang kita peroleh di sini sangat penting untuk disampaikan kembali di tingkat kecamatan maupun desa,” ujarnya. Ia mengajak seluruh peserta — khususnya para ibu — untuk tidak meninggalkan tempat sebelum acara tuntas, agar pemahaman tentang pendidikan inklusif dapat berkembang merata.

Dalam sesi berikutnya, para Bunda PAUD dibahas langkah-langkah mendirikan kelompok kerja (Pokja) di tingkat desa dan kecamatan. Penetapan Bunda PAUD kelurahan, penyusunan rencana program tahunan, hingga mekanisme koordinasi lintas sektor menjadi fokus utama. “Pembinaan dan pengawasan layanan PAUD harus terstruktur, sehingga setiap anak, apapun kebutuhannya, mendapatkan penanganan tepat,” tambah Sry Nirwanti.

Penjabat (Pj) Bupati Parigi Moutong, Richard Arnaldo, menegaskan bahwa pendidikan adalah hak semua anak. “Pendidikan inklusif bukan sekadar kebijakan atau tren, melainkan komitmen moral dan amanat konstitusional. Kita membangun masa depan bagi anak ‘normal’ maupun anak luar biasa,” tegasnya. Arnaldo menekankan pentingnya masa emas (golden age) sebagai periode kritis pembentukan karakter, kognitif, dan emosional anak.

Pj. Bupati menaruh harapan besar agar sosialisasi ini memicu transformasi cara pandang: dari eksklusi menjadi inklusi, diskriminasi beralih pada pemberdayaan.

“Kabupaten Parigi Moutong berpotensi jadi pelopor pendidikan inklusi di Sulteng. Namun, semua itu butuh kolaborasi nyata antara pemerintah, institusi pendidikan, orang tua, dan masyarakat,” ujarnya mengakhiri sambutan.

Baca Juga: Delapan WNA China Ditangkap Imigrasi Sulteng: Visa Wisata Dibalik Kerja Ilegal

Menutup rangkaian, Richard Arnaldo mengingatkan agar peserta hadir tidak hanya secara fisik, tetapi juga batin: membuka hati, pikiran, dan ruang dialog.

Dengan semangat kolektif, diharapkan praktik PAUD di Parimo segera menerapkan metode yang adaptif, menghargai perbedaan, dan menciptakan suasana belajar ramah, inklusif, serta berorientasi pada kebutuhan anak.

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Artikel Terkait

Terkini