kriminal

Jembatan Tada Jadi Panggung Perlawanan, Petani Parigi Moutong Lawan Tambang Ilegal

Rabu, 28 Mei 2025 | 14:24 WIB
Petani Tada demo di atas jembatan, desak tutup tambang emas ilegal yang rusak sawah. Tuntutan lama, tapi negara masih sibuk menunduk.

Sulawesitoday - Di atas jembatan Desa Tada, suara mesin motor pelan-pelan padam. Digantikan teriakan—bukan kemarahan yang liar, tapi tuntutan yang sudah terlalu lama diam. Rabu pagi, ratusan warga Kecamatan Tinombo Selatan, kebanyakan petani, turun ke jalan.

Mereka konvoi, lalu berkumpul di titik yang tak biasa: jembatan di jalan trans Sulawesi. Simbol perlintasan, tapi hari itu menjadi panggung perlawanan.

“Apa harus semua sawah jadi kubangan baru kalian datang?” ujar Najib S. Masalihu dari balik megafon. Tak ada selebaran rapi atau naskah panjang. Hanya satu pesan: hentikan tambang emas ilegal (Peti) di kampung mereka.

Najib tak menyebut nama, tapi semua paham ke mana telunjuknya mengarah: kepala desa yang terlalu dekat dengan pemodal, aparat yang terlalu diam, dan tambang yang terlalu rakus.

Aktivitas tambang emas tanpa izin itu—kata warga—telah mengubah lebih dari seribu hektare sawah menjadi ladang pasir beracun.

“Kalau terus begini, mungkin generasi kami berikutnya tak lagi kenal bau jerami basah,” ujar seorang petani muda. Kalimatnya sederhana, tapi menusuk: di balik amarah warga, tersimpan ketakutan akan masa depan yang mengering.

Romansyah, koordinator aksi, mengingatkan bahwa desakan sudah sejak 2012. Artinya, negara sudah punya cukup waktu untuk bertindak. Tapi waktu, seperti sering terjadi, justru berjalan ke arah sebaliknya—membiarkan ilegal menjadi biasa.

Padahal, hukum tidak tidur. UU Minerba No. 3 Tahun 2020 menyebutkan: pelaku tambang ilegal bisa dipidana 5 tahun dan denda maksimal Rp 100 miliar. Angka yang besar, tapi nyaris tak pernah dijamah.

Yang mereka minta tidak muluk: tegakkan hukum, kembalikan hak atas tanah. Tapi permintaan sederhana sering kali adalah yang paling sulit dikabulkan, apalagi jika yang diminta sibuk melihat ke arah lain.

Baca Juga: Warga Temukan Mayat Korban Banjir Desa Wombo Donggala di Pinggir Sungai, Evakuasi Darurat dengan Peralatan Sederhana

Aparat kepolisian hadir. Mengawal. Tapi terlalu sunyi untuk disebut bertindak. Najib dan kawan-kawan bersumpah akan terus mengawal tuntutan ini sampai ke Polda Sulawesi Tengah.

Demonstrasi ini bukan sekadar soal tambang. Ia adalah gugatan atas ketidakadilan yang berumur lebih dari satu dekade. Dan jembatan itu—yang hari-hari biasanya dilintasi tanpa jeda—hari itu dipaksa berhenti, agar negara mau mendengar.

Tags

Terkini