• Selasa, 21 Juli 2026

Bukan Lagi Soal Musim Panen, Sistem Budidaya Durian Parigi Moutong Disulap Total

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Selasa, 27 Mei 2025 | 21:51 WIB
Parigi Moutong tak lagi sekadar penghasil durian. Ia berubah. Lewat sistem baru, ia menembus ekspor perdana ke China.
Parigi Moutong tak lagi sekadar penghasil durian. Ia berubah. Lewat sistem baru, ia menembus ekspor perdana ke China.

Sulawesitoday - Dulu, durian hanyalah cerita musiman. Menunggu gugur, memungut yang jatuh, menjual ke pasar kecamatan. Sekarang, di Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, cara itu perlahan ditinggalkan. Di ladang-ladang sunyi, perubahan besar sedang terjadi: transformasi sistem budidaya durian. Diam-diam, tapi pasti.

Tanggal 25 Mei 2025, ketika lampu-lampu sorot menyorot tangan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Xi Jinping yang bersalaman di Jakarta, di desa-desa Parigi Moutong, para petani mencatat tanggal itu sebagai tonggak. Bukan karena seremoni megahnya, tapi karena hari itu durian lokal mereka resmi diterima sebagai komoditas ekspor ke China.

“Ini bukan soal keberuntungan,” kata Faradiba Zaenong, Ketua Kadin Parigi Moutong. “Ini soal kesiapan.” Ia tak sedang melebihkan.

Wilayahnya memiliki lebih dari 114 ribu pohon durian produktif, tersebar di 1.114 hektare lahan. Enam belas unit packing house berdiri sebagai bukti bahwa daerah ini tak cuma bisa menanam, tapi juga menyiapkan buahnya sesuai standar internasional.

Tapi buah bagus saja tak cukup. Sistemnya harus ikut berubah. Di sinilah kata kunci “transformasi” jadi penting. APDURIN, asosiasi petani durian setempat, menggalang pelatihan dan pendampingan teknologi. Pola tanam dirombak, panen diatur ulang, pengemasan diseragamkan.

“Pasar global itu kejam. Mereka tidak mau tahu durian kita enak. Mereka lihat standar, bukan rasa,” ujar Faradiba dengan nada tajam. Ia menyadari, ekspor perdana ini bisa jadi permulaan atau malah jadi penyesalan—jika kualitas tak dijaga.

Kini, Parigi Moutong tengah membentuk citra baru: dari daerah pinggiran menjadi sentra modern durian nasional. Bukan lagi sekadar penghasil, tapi pengendali arah pasar.

Baca Juga: Sungai Meluap, Desa Wombo Kalonggo Donggala Terseret Banjir dan Lumpur

“Kalau kita berhasil di China, pintu Eropa bukan mustahil,” ucapnya.

Cerita ini belum selesai. Tapi jelas, Parigi Moutong tak lagi menunggu takdir. Ia sedang menulisnya sendiri—dengan durian sebagai penanya.

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini