Sulawesitoday - Warga Desa Wombo Kalonggo, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, dikejutkan oleh penemuan mayat korban banjir desa Wombo Donggala ditemukan warga di pinggir sungai, Rabu (28/5) pagi.
Suasana yang sebelumnya hening mendadak tegang saat menggapai jenazah yang tersangkut di batu.
Lihat postingan ini di Instagram
Video yang diunggah akun Facebook @Andi Moh Syakila merekam momen warga bergerak cepat—membentuk tali darurat, memanfaatkan alat sederhana yaitu sarung evakuasi jenazah. Meski arus sungai belum sepenuhnya normal, mereka tak menunggu bantuan alat berat. Sesekali tampak wajah tegang; derasnya air dan potongan kayu apung jadi ancaman setiap saat.
Banjir bandang yang melanda Desa Wombo Kalonggo sejak Selasa, 26 Mei 2025, usai hujan intens mengguyur dataran tinggi Donggala. BPBD Provinsi Sulawesi Tengah mencatat setidaknya 50 rumah hanyut dan terendam lumpur hingga lutut orang dewasa. Sekolah dasar dan satu jembatan penghubung desa—saksi bisu kewaspadaan warga—juga ikut porak-poranda.
Hingga Rabu malam, tercatat sekitar 100 kepala keluarga mengungsi di tenda darurat. Dua korban jiwa ditemukan dengan luka-luka serius, sementara dua lainnya masih dalam pencarian tim SAR gabungan. “Kami sudah lakukan pencarian sejak dini hari, namun sungai masih fluktuatif,” ujar Akris Fattah Yunus, Kepala Pelaksana BPBD Sulteng, melalui panggilan telepon.
Sejumlah warga menyebut banjir datang tiba-tiba. “Kami pikir banjir biasa, ternyata bandang. Air datang deras, bawa lumpur dan kayu,” kata Saman, 42 tahun, salah satu pengungsi. Kini, warga bersiaga di tepi sungai sambil menunggu alat penyedot lumpur tiba.
Baca Juga: Sungai Meluap, Desa Wombo Kalonggo Donggala Terseret Banjir dan Lumpur
Di balik kerusakan fisik, trauma membekas. Anak-anak terpaksa tak sekolah, orang tua berjaga siang-malam. Peringatan BPBD: waspadai hujan lokal dalam dua hari ke depan. Alat berat masih dalam perjalanan, diharapkan mempercepat pembersihan dan mempersempit risiko longsoran susulan.
Desa Wombo Kalonggo belajar lagi soal kata “bersiap”. Saat alam bicara dengan derasnya hujan, warga kecil itu membalas dengan kedisiplinan dan gotong royong—meski tangan mereka sebatas bambu dan ember, semangatnya sehebat arus yang mereka hadapi.
Artikel Terkait
BPK Serahkan LHP Parigi Moutong 2024: Bupati Terima, DPRD Siap Mengawal
Kasus Argo UGM, Tewas Ditabrak BMW Tersangka Belum Ditahan—Tagar JusticeForArgo Menggema
LPS Longgarkan Bunga Penjaminan, Tapi Pasar Tetap Tak Boleh Lengah
Sungai Meluap, Desa Wombo Kalonggo Donggala Terseret Banjir dan Lumpur
Bukan Lagi Soal Musim Panen, Sistem Budidaya Durian Parigi Moutong Disulap Total