Sulawesitoday - Mengapa Chromebook? Itu mungkin pertanyaan yang masih bergema di kepala banyak orang sejak Kejaksaan Agung membuka penyidikan atas pengadaan laptop senilai nyaris Rp10 triliun di Kementerian Pendidikan pada masa Menteri Nadiem Makarim.
Di atas kertas, pengadaan itu tampak seperti langkah modernisasi. Tapi di balik layar, cerita berbeda mengalir. Komisi III DPR, lewat anggota Fraksi PKS Nasir Djamil, menyatakan dukungan terbuka terhadap penyidikan yang dilakukan Kejagung. Nada Nasir tegas, tapi juga menyiratkan kelelahan publik terhadap siklus lama: janji, proyek, dan… korupsi?
"Ini bagian dari Asta Cita Presiden soal pemberantasan korupsi. Tapi saya kira Kejagung tak perlu tunggu aba-aba Presiden,” ujar Nasir. Ia seolah mengingatkan: keadilan tidak semestinya tunggu isyarat politik.
Kisahnya berawal dari sebuah kajian teknis. Tim internal Kemendikbudristek awalnya merekomendasikan laptop berbasis Windows—sistem yang fleksibel dan lebih kompatibel dengan kondisi infrastruktur sekolah. Tapi kajian itu kemudian disingkirkan. Muncul kajian baru, yang tiba-tiba lebih menyukai Chromebook. Tanpa banyak penjelasan.
Kapuspenkum Kejagung, Harli Siregar, menyebut ada dugaan permufakatan jahat. Istilah hukum untuk menggambarkan: ada yang mengatur, bukan sekadar salah pilih produk.
Celakanya, uji coba Chromebook sebelumnya bahkan menunjukkan kelemahannya. Perangkat itu hanya bekerja optimal jika ada internet stabil. Di Indonesia? Bahkan di ruang sidang DPR sinyal kadang lari-lari.
Tanggal 21 Mei, penyidik menggeledah dua apartemen di Jakarta Selatan. Disita 24 barang bukti: mulai laptop hingga agenda kerja. 28 saksi diperiksa, dua di antaranya pernah jadi staf khusus sang menteri.
Sementara itu, rakyat cuma bisa menonton. Dana sebesar Rp9,98 triliun—yang seharusnya membawa cahaya ke ruang kelas—justru memunculkan bayang-bayang gelap korupsi.
Baca Juga: Viral Konvoi Remaja Bawa Sajam Teror Warga, Aksinya Picu Kepanikan
Sekarang, kasus ini sudah resmi masuk tahap penyidikan. Tapi publik tahu, penyidikan bukan jaminan. Banyak cerita bermula dari sini, tapi berakhir di kabut.
Pertanyaannya tinggal satu: akankah yang satu ini benar-benar diselesaikan, atau hanya jadi drama satu musim yang terlupakan saat episode berikutnya tayang?