• Senin, 20 Juli 2026

Ustadzah Ini Diduga Waria, Viral Kontroversi Shuniyya Ruhama

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Sabtu, 31 Mei 2025 | 13:02 WIB
Ceramahnya soal keharmonisan rumah tangga. Tapi yang bikin ramai: jilbab, suara lembut, dan pengakuannya sebagai waria.
Ceramahnya soal keharmonisan rumah tangga. Tapi yang bikin ramai: jilbab, suara lembut, dan pengakuannya sebagai waria.

Sulawesitoday - Pekan ini, sebuah video berdurasi tiga menit mengguncang jagat maya. Sosok berkebaya putih dan suara lembut berbicara penuh semangat di depan jamaah perempuan. Ia tidak mengutip dalil rumit atau tafsir langka. Hanya menyarankan, "Kalau kesal pada suami, bacalah Asmaul Husna sambil menyuguhkan teh manis."

Namanya Shuniyya Ruhama. Ia bukan nama asing bagi mereka yang akrab dengan kisah minoritas gender. Tapi bagi mayoritas warganet, satu fakta dalam video itu cukup untuk menyalakan api debat: ia adalah seorang waria.

Unggahan akun @medsos_rame pada Kamis, 29 Mei 2025, membuat nama Shuniyya meledak di kolom komentar. Bukan pujian yang datang. Kalimat seperti "tobatlah ente laki-laki," dan "akhir zaman ini mah" menghiasi layar ponsel ribuan orang.

Sorotan tak berhenti di video. Buku autobiografi lawasnya berjudul "Jangan Lepas Jilbabku!" kembali dibongkar. Di situ, Shuniyya menulis, "Fisikku laki-laki, tapi jiwaku perempuan." Ia juga dikenal sebagai pendiri Paguyuban Waria Kendal—sebuah organisasi komunitas yang memperjuangkan ruang aman bagi mereka yang hidup di luar norma gender.

Tapi kontroversi ini bukan tentang ajaran yang disampaikan. Dalam ceramahnya, tak ada penyimpangan teologis atau tafsir menyimpang. Semua masuk akal—bahkan cenderung mainstream dalam tradisi dakwah Islam soal rumah tangga. Yang dipermasalahkan adalah siapa yang menyampaikan.

Indonesia, yang mayoritas masyarakatnya masih memegang erat dikotomi gender tradisional, tampak belum siap menerima sosok ustadzah yang secara biologis bukan perempuan. Publik seolah menegaskan bahwa jilbab tak cukup untuk jadi simbol legitimasi keagamaan. Di sinilah batas-batas sosial tampil telanjang.

Media sosial, seperti biasa, bertindak cepat dan beringas. Video viral menjadi panggung kemarahan kolektif, mempercepat penyebaran kecemasan sosial. Satu unggahan berubah jadi vonis massal. Yang terlihat bukan sekadar komentar, tapi mekanisme ‘penjaga gawang’ moral yang bekerja secara otomatis.

Baca Juga: Truk Kontainer Hantam Lapak Tas di Tondo, Warga Tersentak Dentuman Keras

Tentu, ada juga suara lain. Mereka yang meminta agar penilaian diberikan bukan pada identitas, tapi pada isi ceramah. Tapi dalam ruang yang dijejali moralitas instan dan amarah digital, suara itu tenggelam.

Kontroversi ini adalah tentang lebih dari sekadar seorang waria berceramah. Ini soal siapa yang diizinkan bicara tentang Tuhan, dan siapa yang hanya boleh mendengar.

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini