• Selasa, 21 Juli 2026

Camat Ini Tiba-tiba Sesak Nafas Saat Diperiksa Inspektorat, Dugaan Pungli Retribusi Sampah Menguak

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Jumat, 30 Mei 2025 | 14:38 WIB
Diperiksa karena dugaan pungli, Camat Medan Barat mendadak sesak nafas. Lima mandor jadi korban. Tapem disebut ikut "bereskan". Ada apa?
Diperiksa karena dugaan pungli, Camat Medan Barat mendadak sesak nafas. Lima mandor jadi korban. Tapem disebut ikut "bereskan". Ada apa?

Sulawesitoday - Sesak napas bukan hanya soal paru-paru. Bisa juga soal tekanan. Dan pagi itu, tekanan seolah menyesak di ruang pemeriksaan Inspektorat Kota Medan.

Hendra Syahputra, Camat Medan Barat, terkulai. Napasnya tersengal. Seorang ASN buru-buru membukakan kancing kemejanya, menyodorkan air, menenangkan. Video detik-detik dramatis itu viral. Terekam jelas oleh ponsel anggota DPRD Kota Medan, Antonius Tumanggor.

“Video lama itu. Waktu dia diperiksa soal pungli dan tes urine,” ujar Antonius, tenang.

Pemeriksaan memang bukan hal asing bagi Camat Hendra. Tapi kali ini, yang diperiksa bukan hanya dia. Lima mandor kebersihan di Medan Barat datang mengadu. Mereka dipecat secara sepihak, lalu dipindahtugaskan menjadi petugas P3SU. Mereka tak diberi alasan, hanya surat.

“Sebelumnya kami menagih uang setoran iuran sampah yang harusnya disetor ke DLH. Tapi belum juga disetor,” kata Abdu Hasbi, satu dari lima mandor. “Kami justru dimarahi dan dipindahkan.”

Setoran iuran itu nilainya tak main-main. Dari Rp5 juta sampai Rp13 juta per mandor. Total mendekati Rp50 juta. Bukti transfer dan kuitansi disodorkan ke Antonius Tumanggor.

“Belum genap seratus hari Wali Kota menjabat, sudah ada beginian,” keluh Antonius. Ia menyebut gaya kepemimpinan Hendra “tidak sehat”. Mulai dari urusan sampah, pengadaan baju dinas, hingga HT kepling.

Yang bikin kisah ini makin berlapis: muncul upaya "mendamaikan" lewat Kabag Tapem, Siska. Dalam percakapan yang diklaim Antonius, Siska menyebut nama Sekda Medan, Wiriya Alrahman. Katanya, Sekda minta kasus ini jangan dibesar-besarkan.

“Saya ditelpon Siska, katanya karena perintah Sekda. Lah, kok Sekda dibawa-bawa?”

Puncaknya, para mandor diminta datang saat libur dinas. Mau didamaikan, katanya. Uangnya mau dikembalikan. Tapi tak ada berita soal proses hukum. Seolah yang penting tenang, bukan benar.

Baca Juga: Residivis Jambret Ojol Ditangkap Berkat Soliditas Pengemudi di Palu

“Kalau mereka bersalah, proses. Tapi kalau tidak, kembalikan hak mereka,” tegas Antonius.

Kini, mata publik menanti: apakah kasus ini berakhir dengan 'sesak napas' juga? Atau akan diungkap hingga tuntas?

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini