Sulawesitoday - Asapnya membumbung tinggi. Warna abu-abu menggulung seperti kabut perang, terlihat sejauh mata memandang dari jendela sekolah dasar di Gaomi. Beberapa siswa sempat batuk-batuk. Guru meminta mereka memakai masker. Bukan karena pandemi, tapi karena bau menyengat dari pabrik pestisida yang baru saja meledak.
Hari itu, Selasa 27 Mei 2025, pukul 09.35 waktu setempat, pabrik milik Youdao Chemical berubah jadi neraka. Ledakan tunggal, tapi dentumannya terdengar hingga radius 3 kilometer. Pecahan kaca beterbangan, menyisakan lubang-lubang tak kasatmata di nadi kota industri ini.
Lima orang dipastikan tewas. Enam lainnya hilang. Sembilan belas luka-luka, sebagian dalam kondisi kritis. Petugas penyelamat mengerahkan 232 personel dan 55 unit kendaraan. Tapi waktu, seperti biasa, tak berpihak pada yang tertimbun puing.
Youdao Chemical bukan pemain kecil. Mereka memproduksi klorpirifos—racun pertanian yang tak semua negara berani pakai. Produksi mereka mencapai 11.000 ton per tahun. Namun yang tak kalah besar: daftar pelanggaran mereka. Tahun lalu saja, lebih dari 800 catatan keselamatan ditemukan. Banyak yang tergolong "berisiko tinggi". Tapi bisnis terus jalan. Sampai pagi itu, ketika udara kota berubah jadi senyawa tak dikenal.
Rekaman video amatir menunjukkan api menggerogoti tangki penyimpanan. Beberapa warga berlarian, sebagian hanya bisa menatap dari kejauhan dengan napas tertahan. "Kami kira gempa bumi," kata seorang perempuan tua yang rumahnya bergetar hebat.
Pihak berwenang belum mengumumkan penyebab pasti. Tapi jika sejarah berbicara, jawabannya tak jauh-jauh dari satu kata: kelalaian. China, sejak ledakan Tianjin 2015 yang menewaskan lebih dari 170 orang, seolah tak belajar. Regulasi diperketat, tetapi implementasi tetap longgar. Industri kimia tumbuh, kadang melebihi kontrol negara atasnya.
Kini, kota Gaomi mencatatkan namanya dalam daftar panjang tragedi kimia China. Bau pestisida itu masih bertahan di udara. Dan luka kolektif—yang ditutupi laporan keselamatan dan grafik produksi—kembali menganga.
Artikel Terkait
WNA Swiss Penggalang Dana Ilegal Anjing Liar Dideportasi dari Bali Malam Ini
Tawuran Subuh di Bandarharjo, Nyawa Melayang, Empat Jadi Tersangka
Diam-Diam Parigi Moutong Masuk Radar Tiongkok Lewat Durian Beku
Video Viral Oknum Polisi Gowa Minta Uang Tilang: Dinonaktifkan, Tapi Masalah Belum Selesai
Profil Setia Budi Tarigan Ayah Penabrak Mahasiswa UGM: Jejak Karier, Kekayaan, dan Isu Penanganan Kasus