• Selasa, 21 Juli 2026

Tawuran Subuh di Bandarharjo, Nyawa Melayang, Empat Jadi Tersangka

.
Amirullah, Sulawesi Today
- Kamis, 29 Mei 2025 | 14:48 WIB
Liburan berubah jadi duka. Rivaldo, pemuda asal Jakarta, tewas dalam tawuran di Semarang. Polisi tetapkan empat tersangka, kasus terus dikembangkan.
Liburan berubah jadi duka. Rivaldo, pemuda asal Jakarta, tewas dalam tawuran di Semarang. Polisi tetapkan empat tersangka, kasus terus dikembangkan.

Sulawesitoday - Semarang bukan kota asing bagi wisatawan. Tapi bagi Muhamad Rivaldo Ferdy Siregar (20), kunjungannya ke Ibu Kota Jawa Tengah itu menjadi kunjungan terakhir dalam hidupnya.

Sabtu malam, ia dan beberapa teman meninggalkan Jakarta Selatan menuju Semarang. Niat awal: jalan-jalan dan menikmati pelabuhan. Tapi subuh harinya, nama Rivaldo masuk daftar jenazah setelah tawuran pecah di Jalan Empu Tantular, Bandarharjo, Semarang Utara.

"Korban ikut mengejar kelompok lawan ke gang sempit. Saat jumlah lawan bertambah, dia tertinggal dan jadi sasaran," kata Kompol Agung Setiyo Budi dari Polrestabes Semarang, Kamis (29/5).

Korban dikeroyok brutal. Senjata tajam dan balok kayu jadi alat eksekusi. Luka di kepala, paha, dan kaki cukup untuk membuat nyawanya padam sebelum ambulans datang. Tawuran ini terjadi sekitar pukul 04.00 WIB.

Dari tujuh orang yang diamankan, empat ditetapkan sebagai tersangka. Mereka: R.A.S alias Gopok (22), M.T.W.N (23), R.F.H alias Getuk (19), dan K.A (21). Semuanya warga Tanjungmas, kecuali Getuk yang asal Boyolali.

Ketiganya dijerat Pasal 170 ayat (2) ke-3 KUHP: kekerasan bersama yang berujung maut. Sementara K.A. diproses terpisah karena tertangkap tangan saat aksi berlangsung.

Polisi menyita tiga bilah celurit dan satu corbel sepanjang lebih dari satu meter. Semua ini bersumber dari gesekan antar kelompok pemuda yang, entah karena gengsi atau provokasi, menjadikan kekerasan sebagai bahasa sehari-hari.

Baca Juga: WNA Swiss Penggalang Dana Ilegal Anjing Liar Dideportasi dari Bali Malam Ini

"Kami masih dalami kasus ini. Ada kemungkinan pelaku lain," ujar Agung.

Kasus tawuran remaja makin sering muncul di berita. Tapi ketika satu nyawa melayang hanya karena kumpul-kumpul liar berubah jadi duel, yang salah bukan hanya pelaku. Tapi juga budaya diam, lingkungan yang permisif, dan aparat yang selalu datang setelah darah tercecer.

Editor: Amirullah

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini