"Ini bukan sekadar kerusakan bangunan. Ini kerusakan sistem dan moralitas pengelola anggaran publik," seru Yedy, seorang pembesuk pasien yang ditemui di Puskesmas Sausu. Ia khawatir, jika dibiarkan, skandal semacam ini akan jadi preseden buruk, merugikan negara, dan yang terpenting, mengancam nyawa masyarakat yang bergantung pada pelayanan kesehatan.
"Pembangunan Puskesmas Sausu ini bisa jadi cermin nyata bagaimana uang rakyat dijarah lewat proyek fiktif atau setengah jadi. Ini bukan lagi kelalaian teknis, tapi bisa mengarah pada kejahatan anggaran yang terstruktur," tegasnya, dengan suara bergetar.
Yedi pun mendesak Pemerintah Daerah Parigi Moutong, DPRD, dan aparat penegak hukum untuk segera bertindak. "Jika tidak, ini bisa menjadi bukti bahwa korupsi sudah menyentuh jantung pelayanan publik, fasilitas kesehatan rakyat," cetusnya.
Lebih jauh, Yedy mengingatkan, Sausu bukanlah wilayah sembarangan. Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), daerah ini termasuk zona rawan bencana gempa karena dilalui Sesar Sausu, yang merupakan anak dari Sesar Palu Koro. Belum lama ini, pada Minggu (16/06/2025), gempa bumi dangkal dengan pusat 9 kilometer arah selatan Sausu kembali terjadi.
"Jika melihat kondisi bangunan ini, maka dapat disimpulkan, itu dapat menjadi ancaman serius bagi keselamatan masyarakat ketika terjadi gempa bumi," pungkas Yedy, mengakhiri perbincangan dengan nada penuh kekhawatiran.
Kerusakan puskesmas ini bukan hanya soal kerugian finansial negara, namun juga potensi bom waktu bagi keselamatan masyarakat di tengah ancaman gempa.