• Selasa, 21 Juli 2026

Eks PM Israel Serukan Netanyahu Mundur, Soroti Kekacauan dan Durasi Kekuasaan

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Selasa, 1 Juli 2025 | 22:12 WIB
Mantan PM Israel Naftali Bennett mendesak Netanyahu mundur. Kekuasaan 20 tahun dianggap pemicu perpecahan dan bencana politik.
Mantan PM Israel Naftali Bennett mendesak Netanyahu mundur. Kekuasaan 20 tahun dianggap pemicu perpecahan dan bencana politik.

Sulawesitoday - Apa yang mendasari seruan mundur ini? Desakan agar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menepi dari kursi kekuasaan kali ini datang dari sosok tak asing: pendahulunya, Naftali Bennett. Suara kritis ini bukan sekadar bisikan politik biasa, melainkan sebuah sorotan tajam terhadap apa yang disebut Bennett sebagai akar kekacauan di jantung negara itu.

Mengapa durasi kekuasaan Netanyahu menjadi sorotan utama? "Netanyahu sudah berkuasaa selama 20 tahun, itu terlalu lama, tidak sehat," tegas Bennett dalam sebuah wawancara yang dilansir media internasionale pada Minggu, 29 Juni. Pernyataan ini bukan tanpa bobot.

Dalam kacamata Bennett, periode kepemimpinan yang terlampau panjang telah menorehkan luka dalam, menciptakan jurang perpecahan di masyarakat Israel. Ia menegaskan, Netanyahu memikul tanggungjawab besar atas kondisi ini dan, oleh karenanya, patut untuk mundur.

Gejolak politik di Israel memang kian memanas dalam beberapa tahun terakhir, bak bara dalam sekam yang terus menyala. Penolakan terhadap kepemimpinan Netanyahu tak kunjung surut, bahkan setelah ia kembali terpilih dalam Pemilu 2022 lalu. Sebuah ironi, mengingat dirinya pernah digulingkan dari tampuk kekuasaan, walau hanya sesaat.

Pada 2021, Bennett sempat mengejutkan panggung politik dengan membentuk koalisi yang berhasil menjungkalkan Netanyahu, mengakhiri dominasinya yang telah membentang selama 12 tahun berturut-turut. Namun, roda nasib berputar. Posisi Bennett tak bertahan lama, koalisi yang ia pimpin karam, dan Netanyahu kembali memimpin setelah pemilu 2022. Sebuah cerita tentang pendulum kekuasaan yang berayun, namun tak menyelesaikan akar persoalan.

"Pengelolaan politik negara ini adalah bencana karena ketidakmampuan pemerintah Netanyahu untuk mengambil keputusan," imbuh Bennett. Kalimat itu meluncur tajam, menusuk jantung performa kabinet saat ini.

Bukan rahasia lagi, Netanyahu kini juga tersandung pusaran skandal korupsi. Tuduhan gratifikasi barang mewah senilai lebih dari USD 260 ribu, mulai dari rokok mahal, perhiasan berkilau, hingga sampanye dari seorang miliarder, mewarnai perjalanan politiknya. Semua demi imbalan bantuan politk.

Baca Juga: Skandal Sritex, Kejagung Amankan Uang Tunai Rp2 Miliar dari Kediaman Dirut Iwan Kurniawan di Solo

Seruan Bennett ini bak cermin yang memantulkan potret buram stabilitas domestik Israel. Sebuah negeri yang terus bergolak, tak hanya karena konflik eksternal, tetapi juga keretakan dari dalam, yang menurut suara-suara kritis, dipicu oleh durasi dan cara kepemimpinan.

Mungkinkah seruan ini menjadi titik balik bagi masa depan politik Israel? Hanya waktu dan dinamika selanjutnya yang akan menjawab.

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini