Sulawesitoday - Di tengah suasana malam yang akrab dan penuh ngobrol santai, Imam Muslihun menyampaikan sesuatu yang tidak biasa terdengar dari mulut wakil rakyat. Anggota DPRD dari Partai Golkar Dapil IV itu mempersilakan warganya — siapa pun yang sedang berurusan di ibu kota kabupaten — untuk mampir bahkan menginap di rumahnya di Parigi.
Pernyataan itu meluncur dalam sesi reses masa persidangan 2026 di Desa Wanamukti, Rabu malam, 22 April 2026. Bukan di gedung formal. Bukan dengan protokol berlebihan. Pertemuan itu berlangsung sederhana — kursi plastik, wajah-wajah tetangga, dan percakapan yang mengalir tanpa jarak.
"Jika ada warga yang sedang urusan di Parigi dan butuh tempat istirahat, pintu rumah saya selalu terbuka. Silakan mampir atau menginap," ujar Imam di hadapan peserta reses yang hadir malam itu.
Hadir dalam pertemuan itu Kepala Desa Wanamukti, Kepala Desa Lembah Bomban, serta sejumlah tokoh masyarakat setempat. Keduanya kompak menyampaikan apresiasi. Bukan basa-basi. Mereka bicara soal program yang sudah turun ke lapangan — nyata, terasa, bukan sekadar janji kampanye.
Kepala Desa Lembah Bomban secara khusus menyebut perhatian Imam terhadap sarana olahraga di desanya. Tapi apresiasi itu langsung diiringi harapan baru. Warga ingin lebih. Mesin cetak batako. Fasilitas bengkel. Sesuatu yang bisa membuka lapangan kerja — bukan tergantung pada bantuan yang datang dan pergi.
Ekonomi kerakyatan. Itulah kata kuncinya. Bukan proyek besar yang jauh dari tangan warga. Tapi alat produksi yang bisa dioperasikan sendiri, oleh tangan-tangan muda yang selama ini tak punya modal awal.
Soal anak muda pun tak luput. Kades Lembah Bomban menitipkan harapan agar ada perhatian pada kegiatan positif generasi muda — olahraga, kretaifitas, ruang ekspresi yang selama ini kurang mendapat sokongan resmi.
Nada senada datang dari Kepala Desa Wanamukti. Program aspirasi yang selama ini dibawa Imam, kata dia, benar-benar menyentuh kebutuhan riil warga di level paling bawah. Bukan kebutuhan di atas kertas. Tapi kebutuhan yang terasa ketika hujan turun, jalan rusak, dan lapangan kerja menipis.
Imam merespon semua harapan itu dengan satu komitmen tegas. "Saya berjanji akan mengawal terus kepentingan masyarakat Dapil IV. Meskipun kondisi anggaran sedang efisiensi, pengabdian tidak boleh berhenti," tegasnya.
Efisiensi anggaran memang sedang menjadi warna dominan pemerintahan daerah saat ini. Banyak program terpaksa dipangkas. Tapi Imam memilih bersikap — pengabdian tidak ikut dipangkas bersama anggaran.
Malam itu di Wanamukti, reses bukan hanya soal menyerap aspirasi. Ada sesuatu yang lebih tua dari sekadar mekanisme parlemen — kedekatan manusia dengan manusia. Dan sebuah alamat di Parigi yang pintunya, kata sang anggota dewan, tidak pernah terkunci untuk warganya.
Artikel Terkait
Sulitnya Sertifikat Tanah di Kayu Agung Jadi Sorotan Reses Anggota DPRD Parigi Moutong Adnyana Wiryawan
Legislator Taufik Borman Tampung Aspirasi Warga Tinombo, dari Jalan Rusak hingga Nasib Taman Pahlawan
Sembilan Ancaman Bencana Mengintai Parigi Moutong, Bupati Pimpin Apel Siaga Nasional
Tanah Pura Belum Bersertifikat Puluhan Tahun, Legislator Leli Pariani Janji Kawal ke BPN
Naik Motor Lewat Jalan Ekstrem, Legislator Fathia Bawa Bantuan untuk Lansia Miskin di Pelosok Parigi Moutong