Sulawesitoday - Di tengah hangatnya upaya pemerintah menuju visi Indonesia Emas 2045, sebuah inovasi menarik hadir dari balik jeruji.
Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Palu membuktikan bahwa pembinaan warga binaan dapat menjadi langkah strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Sabtu (28/12/2024), Kepala Rutan Palu, Yansen, memimpin panen perdana selada segar yang dihasilkan melalui sistem hidroponik.
Sebanyak 30 kilogram selada berkualitas tinggi berhasil dipanen dari program yang digagas melalui Bimbingan Kerja ini.
“Program dan panen kita hari ini adalah bentuk nyata komitmen kita untuk mendukung Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Tidak hanya mendukung ketahanan pangan nasional, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan yang berguna saat kembali ke masyarakat,” ujar Yansen.
Pernyataannya menjadi penegas bahwa upaya rehabilitasi tidak semata soal hukuman, tetapi pemberdayaan.
Sistem hidroponik yang diterapkan terbukti efisien, dengan hasil yang cepat dan berkualitas. Dalam perspektif Hermansyah Siregar, Kepala Kanwil Kemenkumham Sulteng, program ini merupakan wujud nyata sinergi seluruh elemen pemerintah.
Baca Juga: Kolaborasi Media dan Kemenkumham Sulteng: Sebuah Tonggak Baru Pelayanan Hukum di 2024
"Asta Cita Presiden terus kita gaungkan. Ini harus memberi dampak konkret, bukan hanya bagi masyarakat umum, tapi juga warga binaan di Lapas dan Rutan," tegasnya.
Para warga binaan sendiri merespons program ini dengan antusias. AH, salah satu peserta program, mengungkapkan rasa syukurnya.
“Selain mendapatkan pelatihan teknis, kami juga merasa produktif selama masa tahanan. Ini akan sangat bermanfaat saat kami bebas nanti,” tuturnya. Komentar ini menunjukkan dampak psikologis positif dari program tersebut, selain manfaat ekonomi yang direncanakan.
Tidak berhenti pada panen selada, Rutan Palu sudah merancang langkah strategis berikutnya. Mereka berencana memasarkan hasil panen kepada pihak ketiga dengan nilai jual tinggi. Pendapatan ini akan dialokasikan untuk mendukung pembinaan lanjutan.
Hermansyah juga menambahkan pentingnya perlindungan kekayaan intelektual bagi hasil produk warga binaan. "Setiap produk harus memiliki nilai tambah. Ini penting untuk memberikan pengakuan dan manfaat ekonomi," ujarnya.
Dalam konteks yang lebih luas, upaya ini menjadi gambaran sinergi antarjajaran Kementerian Hukum dan HAM yang kini telah bermekar menjadi tiga kementerian. Meski demikian, Hermansyah menegaskan pentingnya kolaborasi. “Kita harus terus bersinergi bersama. Program seperti ini bukan hanya untuk menunjukkan hasil, tetapi juga menciptakan perubahan nyata di masyarakat,” katanya.
Dengan rencana perluasan lahan hidroponik, potensi dampak program ini semakin besar. Langkah-langkah seperti ini membuktikan bahwa visi besar Indonesia Emas 2045 tidak hanya bisa dimulai dari kota-kota besar, tetapi juga dari Rutan di Palu.
Artikel Terkait
Drama Mencekam di Kendari: Pelajar Diserang Sekelompok OTK, Polisi Masih Memburu Pelaku
Modus Cerdik Tiga Pelaku Pencurian di Kolaka Terbongkar, Kerugian Capai Puluhan Juta
Kecelakaan Maut di Morowali Utara: Pengemudi Diduga Pakai Sabu, Nyawa Satu Keluarga Melayang
Banjir Picu Insiden Sapi Panik di Jalan Raya Makassar, Mobil dan Motor Jadi Korban
Mengejutkan, Seorang Pemuda di Palu Curi Laptop Mahasiswi Demi Fantasi Seks