Ada yang bilang sekolah adalah gedung. Ada yang bilang sekolah adalah guru. Tapi di Parigi Moutong, sekolah adalah jarak yang tidak terlalu jauh untuk ditempuh setiap pagi.
Konsep Sekolah Rakyat memang dirancang dengan asrama. Anak-anak dari wilayah terpencil tidak perlu pulang setiap hari. Tidak perlu menyeberangi sungai dalam gelap, tidak perlu khawatir hujan turun di tengah perjalanan.
Parigi Moutong adalah satu dari empat kabupaten di Sulawesi Tengah yang lolos verifikasi dari 120 daerah di seluruh Indonesia. Ini bukan kebetulan. Ini hasil kerja keras yang patut diapresiasi.
Namun kita perlu jujur mengajukan satu pertanyaan besar: setelah lulus dari Sekolah Rakyat, ke mana anak-anak ini pergi?
Parigi Moutong memiliki luas 6.231 kilometer persegi, terbentang di 23 kecamatan dan 283 desa, dari pesisir Teluk Tomini hingga punggung pegunungan. Satu titik sekolah di Desa Jonokalora tidak mungkin menjangkau seluruh wilayah yang bergunung-gunung itu.
Pada 2025, lebih dari 58.000 orang di Parimo bekerja sebagai pekerja keluarga tanpa upah. Secara statistik, angka pengangguran memang terlihat rendah di 2,10 persen. Tapi pekerjaan tanpa penghasilan layak bukanlah solusi.
Apakah Sekolah Rakyat akan membekali anak dengan keterampilan yang relevan dengan pertanian, perikanan, peternakan, dan kewirausahaan lokal? Atau hanya mencetak ijazah tanpa membuka jalan nyata menuju kehidupan yang lebih baik?
Kurikulum Merdeka Belajar yang dipakai harus diadaptasi dengan konteks lokal Parimo, bukan sekadar dijalankan secara seragam dari atas ke bawah. Kebutuhan anak di pesisir Tomini berbeda dengan anak di pegunungan Palasa.
Sekolah Rakyat juga harus terintegrasi dengan roadmap ketenagakerjaan yang sudah diusulkan Pemkab Parimo ke Kementerian Ketenagakerjaan. Tanpa integrasi itu, pendidikan hanya menjadi setengah jalan.
Erwin Burase berharap Parigi Moutong masuk tahap ketiga pembangunan Sekolah Rakyat tahun 2026. Pembangunan ditargetkan mulai triwulan ketiga. Waktu terus berjalan.
Sementara itu, di kampung-kampung terpencil, anak-anak masih bangun subuh. Masih mengambil ransel lusuh. Masih menapaki jalan setapak yang basah.
9,2 hektare itu bukan sekadar lahan. Ia adalah janji. Dan janji yang paling berat bukan yang diucapkan di podium, melainkan yang harus ditunaikan di lapangan, di tengah hutan, di ujung jalan yang belum beraspal, di mana anak-anak masih menunggu.