Sulawesitoday - Serangan siber berbasis AI semakin mencuri perhatian para ahli keamanan. Menurut prediksi, tren ini akan mencapai puncaknya pada tahun 2025.
Reuben Koh dari Akamai menjelaskan bahwa penjahat siber tidak akan berhenti pada phishing biasa. Mereka akan mengembangkan teknik baru dengan dukungan AI untuk menciptakan deepfake dan phishing suara yang lebih meyakinkan.
AI kini tak hanya berperan dalam serangan, tetapi juga menjadi alat canggih dalam menemukan celah keamanan. Proses yang sebelumnya mengandalkan manusia kini digantikan oleh teknologi yang bekerja cepat bak frekuensi radio menyusup ke dalam sistem.
Dalam situasi politik yang panas, intensitas serangan siber kian meningkat. Banyak aktor yang didukung negara memanfaatkan situasi geopolitik untuk menyerang infrastruktur penting, seolah-olah mereka sedang menyelenggarakan lelang Komdigi dengan strategi yang terukur.
Hati-hati! Suara di Telepon Itu Bisa Jadi AI, Ini Cara Tangkis Vishing 2026.
Kehadiran AI juga membawa angin segar bagi pertahanan siber. Sistem keamanan modern kini mengintegrasikan AI untuk memilah data dan mendeteksi insiden, mirip dengan cara ChatGPT meringkas dokumen tebal menjadi poin-poin penting.
Sistem keamanan seperti produk Guardicore memanfaatkan AI untuk berinteraksi secara natural dengan penggunanya. Alih-alih klik dasbor dan laporan yang membingungkan, kita bisa “ngobrol” langsung dengan teknologi untuk mengidentifikasi kebocoran data penting.
Pada akhirnya, teknologi AI membawa dua sisi mata uang. Kita harus tetap waspada terhadap serangan canggih sambil memanfaatkan inovasinya untuk melindungi sistem, karena dalam dunia digital, setiap detik sangat berharga.
Waspada Panggilan Penipu via Telepon! Ini Cara Melacak dan Blokir Spam Otomatis.
Artikel Terkait
Google Hadapi Gelombang PHK Lanjutan, Karyawan Desak Kejelasan Masa Depan
Komdigi Dorong Aturan Baru: Melindungi Anak di Dunia Digital dengan Batasan Usia YouTube
Google Tingkatkan Keamanan Android: 2,3 Juta Aplikasi Berbahaya Diblokir di Play Store
DeepSeek Diblokir di NASA, Keputusan Kontroversial yang Guncang Industri AI dan Teknologi
Prioritaskan Lelang 700 MHz! Komdigi Didorong Tingkatkan Jaringan 4G/5G