Sulawesitoday - Peringatan Washington agar tak ikut campur panasnya bara Iran-Israel bak angin lalu bagi Hizbullah. Lewat corong wakilnya, Sheikh Naim Qassem, kelompok di Lebanon itu menegaskan, mereka siap pasang kuda-kuda, bertempur habis-habisan jika Israel mengendus bumi Lebanon. Namun, perang besar? Bukan itu yang mereka cari.
Paman Sam, melalui berbagai kanal diplomasi, rupanya sudah menyorongkan pesan agar Hizbullah tak terjebak pusaran konflik yang lebih luas antara Teheran dan Tel Aviv.
Sebuah peringatan yang datang saat tegangan di perbatasan Lebanon-Israel kian mendidih, seolah setiap percikan bisa jadi kobaran api.
Tapi, suara dari Beirut sana tak gentar. Sheikh Naim Qassem, saat berpidato, memberi jawaban yang jelas, tegas, dan tak memberi ruang tafsir.
"Siap sepenuhnya untuk berperang," katanya, "tapi hanya jika perang itu dipaksakan." Maknanya, jika rudal atau sepatu bot Zionis menginjak tanah Lebanon, tak ada keraguan.
Qassem juga melontarkan kalimat yang menohok soal keinginan perang. Ia menekankan, "Kami tidak menginginkan terjadinya perang besar di kawasan ini." Sebuah diktum yang seolah ingin menepis cap sebagai pembawa onar.
Namun, di saat yang sama, ia menolak peran Amerika Serikat sebagai penasihat. "Anda (Amerika Serikat) bukanlah pada posisi untuk memberikan nasihat," ujar Qassem, dengan nada yang tak bisa dibantah.
Penolakan itu bukan tanpa alasan. Hizbullah melihat Amerika Serikat tak ubahnya mitra dalam agresi.
Peran Paman Sam yang royal dalam mendukung Israel di Gaza dan Lebanon, baik dari segi militer maupun politis, membuat Washington tak punya gigi untuk mengultimatum.
Nasihat, bagi Hizbullah, hanya sah keluar dari pihak yang netral. Dan AS, menurut mereka, jauh dari kata itu.
Suasana di garis demarkasi kini memang bagai di atas bara. Baku tembak lintas batas antara Hizbullah dan pasukan Israel sudah menjadi menu harian sejak konflik Gaza pecah.
Baca Juga: Fattah-2 Rudal Anyar Iran, Bisa Hantam Israel Kurang dari 5 menit
Kekhawatiran akan perang regional yang lebih besar membayangi. Di tengah kegerahan itu, upaya diplomatik, termasuk kunjungan utusan AS Amos Hochstein, terus berputar, berupaya meredam bara yang sewaktu-waktu bisa jadi bencana.
Intinya, Hizbullah telah mengirimkan pesan yang gamblang: keterlibatan mereka dalam konflik yang lebih luas tergantung pada agresi Israel terhadap Lebanon.
Artikel Terkait
Iran Tuding Sarang Militer di Balik Rumah Sakit, Israel Balas Tuduh Peta Palsu AI
Bnei Brak Kota Diyakini Dilindungi Tuhan Runtuh Kena Rudal Iran, Guncang Iman Warga
Julukan Naga Terbang Iran untuk Rudal Hipersonik Fattah Gemparkan Medsos, Ubah Peta Konflik
Menuju Teluk Persia? Kapal Induk AS Menghilang Dekat Aceh, Bayang-bayang Perang Iran Mengintip
Fattah-2 Rudal Anyar Iran, Bisa Hantam Israel Kurang dari 5 menit