• Kamis, 4 Juni 2026

Muthalib Rimi Resmi Jabat Rektor Baru Unsimar Poso Pasca Demo Mahasiswa

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Sabtu, 21 Juni 2025 | 23:38 WIB
Kursi rektor Unsimar kini terisi Muthalib Rimi usai demo turunkan Suwardi Panthi. Kini harapan bersihnya kampus tertumpu padanya.
Kursi rektor Unsimar kini terisi Muthalib Rimi usai demo turunkan Suwardi Panthi. Kini harapan bersihnya kampus tertumpu padanya.

Sulawesitoday - Angin segar berhembus di kampus Universitas Sintuwu Maroso (Unsimar) Poso. Setelah sepekan didera riak demonstrasi dan mosi tak percaya, kursi rektor yang sempat lowong kini terisi. DR. Abdul Muthalib Rimi, SH, MH, resmi dilantik sebagai Rektor sementara pada Jum’at, 21 Juni 2025.

Ia menggantikan nahkoda sebelumnya, Suwardi Panthi, yang terpaksa menepi usai diberhentikan sementara oleh Yayasan Sintuwu Maroso.

Muthalib Rimi akan memegang kemudi kampus selama enam bulan ke depan, sebuah periode krusial untuk mengembalikan marwah pendidikan di Poso.

Sebagian besar sivitas akademika kini menaruh harap; kehidupan kampus yang sempat keruh bisa kembali bening, normal, dan sesuai jalur harapan.

Kotak Pandora Terbuka: Kronik Asap Panas di Unsimar

Sebelum pelantikan ini, Unsimar bak kuali mendidih. Asap panas mengepul tinggi dari setiap sudut kampus. Seluruh elemen—dosen, staf, hingga mahasiswa—bersatu melayangkan mosi tidak percaya.

Targetnya jelas: Rektor Dr. Suwardi Panth, S.Sos., MM, beserta empat wakil rektornya. Jari menuding, ada "tangan-tangan tak kasat mata" di balik meja birokrasi yang memicu guncangan hebat ini.

Pernyataan mosi yang dilayangkan pada 17 Juni 2025 itu bagai palu godam, menghantam kesunyian akademik. Intinya tak bisa ditawar, kepercayaan pada Suwardi Panth dan empat organ rektor—Dr. Sartika Andi Patau (Wakil Rektor I), Dr. Muhammad Rusli Suaib (Wakil Rektor II), Verry Korua (Wakil Rektor III), dan Meitry Tambinggila (Wakil Rektor IV)—telah sirna.

Bukan tanpa sebab, desas-desus pengelolaan perguruan tinggi yang serampangan, bahkan jauh dari koridor undang-undang, sudah lama tercium.

Puncaknya, Tim Evaluasi Kinerja Perguruan Tinggi (EKPT) turun gunung. Hasil monitoring dan evaluasi tim independen itu bak membuka kotak pandora. Beragam "kesalahan" terkuak, kuat mengindikasikan penyalahgunaan jabatan dan wewenang.

“Sudah lama kami resah, kini puncaknya,” tutur seorang dosen yang enggan namanya disebut, menggambarkan geliat keresahan yang masif.

Raja Kecil di Istana Kampus dan Aroma Uang Tak Transparan

Tak hanya soal regulasi, gaya kepemimpinan Rektor bersama para pembantunya juga jadi sorotan tajam. Mereka dituding bertindak semena-mena, bak raja kecil di istana kampus, terhadap siapa pun yang mencoba menyuarakan perbedaan atau “melawan arus”. Aturan seolah hanya hiasan, keinginan pribadi jadi panglima.

Yang paling membuat darah mendidih adalah indikasi penyalahgunaan keuangan kampus. Sivitas akademika menuding adanya kejanggalan dalam pengelolaan dana Bantuan Pemerintah terkait RPL (Rekognisi Pembelajaran Lampau) dan dana RPL yang dihimpun dari mahasiswa.

Halaman:

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini