Sulawesitoday - Pada malam gelap 13 April 2024, tabir tebal yang selama puluhan tahun menyelimuti perseteruan sengit Iran dan Israel perlahan tersibak.
Dari gurun tandus Iran, ratusan proyektil dilepaskan, bukan lagi lewat tangan ketiga atau sandiwara spionase, melainkan langsung menuju jantung lawan bebuyutan.
Ini bukan sekadar balas dendam, ini adalah penegasan kembali kedaulatan, sebuah pesan gamblang yang mengubah peta "perang bayangan" menjadi konfrontasi yang lebih telanjang.
Pemicunya, tak lain adalah rentetan misil di Damaskus, sebuah serangan yang menurut Teheran, merobek lembaran hukum internasional dan mematik amarah.
Damaskus, Garis Merah yang Terlampaui
Dua pekan sebelum hujan proyektil melanda Israel, tepatnya pada 1 April 2024, sebuah bangunan di sudut Damaskus, yang tak lain konsulat Iran, menjadi sasaran empuk serangan udara.
Serangan presisi ini, meski Israel tak pernah mengakui secara gamblang, menyisakan puing dan belasan nyawa, termasuk dua jenderal senior Korps Garda Revolusi Islam (IRGC): Brigadir Jenderal Mohammad Reza Zahedi dan wakilnya, Brigadir Jenderal Mohammad Hadi Haji Rahimi.
Zahedi bukan sembarang orang; dia adalah panglima Pasukan Quds IRGC untuk Suriah dan Lebanon, sebuah mata rantai vital dalam jaringan pengaruh Iran di kawasan. Kematiannya adalah pukulan telak, memicu geraman dari balik tirai besi kepemimpinan Teheran.
Konvensi Wina tentang Hubungan Diplomatik jelas: konsulat atau kedutaan adalah wilayah berdaulat sebuah negara. Menyerang konsulat sama saja meninju langsung wilayah Iran.
Ini bukan lagi sekadar ‘perang urat syaraf’ atau sikut-sikutan ala spionase. Ini adalah pelanggaran kedaulatan yang fundamental, sebuah kenapa Iran serang israel langsung dan terukur.
Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, tak membuang waktu. Sumpah pembalasan disuarakan, sebuah janji yang tak bisa ditawar, apalagi oleh faksi garis keras di dalam negeri yang senantiasa menuntut ketegasan.
'Janji Sejati' dan Kalkulasi Bidak Catur Teheran
Ketika drone-drone Shahed-136 yang lambat mulai membelah angkasa malam 13 April, disusul rudal jelajah dan balistik yang melesat bak anak panah, dunia menahan napas.
Operasi "Janji Sejati" ini adalah unjuk gigi perdana Iran, serangan langsung dan berskala besar ke tanah Israel. Sekitar 170 drone jadi umpan pembuka, ditujukan untuk membanjiri radar pertahanan.
Artikel Terkait
Bnei Brak Kota Diyakini Dilindungi Tuhan Runtuh Kena Rudal Iran, Guncang Iman Warga
Julukan Naga Terbang Iran untuk Rudal Hipersonik Fattah Gemparkan Medsos, Ubah Peta Konflik
Fattah-2 Rudal Anyar Iran, Bisa Hantam Israel Kurang dari 5 menit
Diingatkan AS Soal Perang Iran Israel, Hizbullah Tak Gentar Menjawab
Irak Murka 50 Jet Tempur Israel Diduga Simulasi Perang di Langit Baghdad