Sulawesitoday - Sejarah politik Nepal mencatat babak baru yang tak terduga. Sushila Karki, mantan Ketua Mahkamah Agung berusia 73 tahun, resmi dilantik sebagai Perdana Menteri Nepal pada Jumat (12/9). Yang mengejutkan bukan hanya sosoknya. Melainkan cara pemilihannya.
Ribuan aktivis Gen Z Nepal memilih Karki melalui Discord. Platform gaming yang telah bertransformasi menjadi arena politik virtual ini menjadi saksi bisu lahirnya kepemimpinan baru di Negeri Seribu Kuil.
-
Negosiasi 48 Jam yang Menentukan Nasib Bangsa
Proses penunjukan Karki bukanlah kebetulan semata. Dua hari negosiasi marathon antara Panglima Angkatan Darat Jenderal Ashok Raj Sigdel dan Presiden Ram Chandra Paudel mencapai klimaks setelah melibatkan perwakilan aktivis muda.
Discord, yang awalnya hanya dikenal sebagai platform komunikasi gamer, kini telah berevolusi. Para aktivis memanfaatkannya untuk berkoordinasi, berdiskusi, hingga mengambil keputusan politik krusial yang mengubah wajah Nepal.
"Selamat! Kami mendoakan kesuksesan Anda, mendoakan kesuksesan negara ini," ujar Paudel kepada Karki usai upacara pelantikan di istana presiden yang disiarkan televisi pemerintah.
Karki tampil anggun dalam balutan sari merah. Ia mengambil sumpah tanpa pidato panjang. Senyuman dan bungkukan tradisional dengan kedua tangan dirapatkan menjadi respons sederhana namun bermakna.
-
Gelombang Amarah yang Mengguncang Himalaya
Pelantikan ini merupakan epilog dari pergolakan politik yang mengguncang Nepal selama dua pekan terakhir. PM sebelumnya, Sharma Oli, terpaksa mengundurkan diri setelah gelombang demonstrasi besar-besaran menghantam ibu kota.
Pemicunya? Kebijakan kontroversial pemerintah yang memblokir 26 platform media sosial populer. Facebook, Instagram, WhatsApp, YouTube, hingga X (Twitter) tiba-tiba tidak dapat diakses. Alasannya, perusahaan-perusahaan teknologi raksasa tersebut tidak mendaftar sesuai regulasi baru yang ditetapkan pemerintah.
Kebijakan ini bagaikan api dalam sekam bagi masyarakat Nepal yang telah lama terbebani masalah korupsi dan kesenjangan sosial yang menganga lebar.
-
Ketika Gas Air Mata Menjadi Jawaban Demokrasi
Respons keras polisi Nepal terhadap demonstran justru semakin memperburuk situasi. Gas air mata, peluru karet, bahkan proyektil yang seharusnya tidak digunakan untuk membubarkan massa, ditembakkan ke arah para pengunjuk rasa.
Aksi yang awalnya damai berubah menjadi kericuhan massal. Jalanan Kathmandu berubah menjadi medan pertempuran antara aspirasi rakyat dan kekuasaan yang defensif.
Para aktivis muda atau yang kerap disebut Gen Z Nepal, kemudian berpindah ke ruang digital. Discord menjadi markas koordinasi mereka. Di sanalah nama Sushila Karki pertama kali mencuat sebagai kandidat konsensus.
-
Tantangan Berat Menanti Sang Iron Lady
Karki kini menghadapi tantangan monumentol. Kepercayaan publik terhadap institusi politik Nepal telah terkikis habis. Pengangguran merajalela. Korupsi mengakar dalam. Kesenjangan sosial menganga lebar.
Sebagai mantan Ketua Mahkamah Agung, Karki memiliki rekam jejak yang relatif bersih. Namun, usianya yang telah menginjak 73 tahun menimbulkan pertanyaan apakah ia mampu mengatasi krisis multidimensi yang melanda Nepal.
Artikel Terkait
Tragedi Kapal Pengangkut Solar Terbakar di Perairan Luwuk, Satu Nyawa Melayang
Jejak Berulang Kebobolan BCA: Dari Gunung Ungaran hingga RDN Rp70 Miliar
Tom Lembong Ungkap Tantangan Ekonomi Global 2025, Sebut Perang Dagang AS-China Picu Ketidakpastian
Video Viral Siswi MTs Donggala Dikeroyok Teman, Warganet Geram Minta Tindak Tegas Pelaku
Eko Patrio Pasrahkan Nasib Politik ke Zulhas Pasca Dinonaktifkan PAN