Sulawesitoday - Siang itu berubah kelam. Senin (29/9) sekitar pukul 15.00 WIB, bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Jalan KHR. Abbas I No.18, Buduran, Sidoarjo ambruk. Runtuh hingga lantai dasar. Puluhan santri dan pekerja tertimbun material beton.
Ironisnya, kejadian itu tepat saat salat Asar berjamaah berlangsung. Suara takbir bersahutan dengan gemuruh bangunan yang kolaps. Sebuah tragedi yang tak terduga di tengah ibadah khusyuk.
Kini, 38 orang masih hilang. Terjebak dalam reruntuhan yang menumpuk. Tim gabungan terus berjuang melawan waktu untuk menemukan mereka—hidup atau mati.
-
Bagaimana Bisa Terjadi?
Pagi hari dimulai normal. Pekerja sibuk mengecor lantai empat. Proses konstruksi berjalan seperti biasa. Tak ada tanda bahaya.
Namun sejak pagi itu, ancaman sudah mengintai. Tiang pondasi ternyata tak mampu menopang beban. Struktur mulai goyah. Lalu saat adzan Asar berkumandang, bencana datang tanpa peringatan.
Bangunan empat lantai itu runtuh beruntun. Lantai demi lantai jatuh seperti kartu domino. Santri yang tengah berwudhu, pekerja yang masih di atas, semua terperangkap dalam hitungan detik.
Dugaan kuat mengarah pada kegagalan teknologi konstruksi. Pondasi tak cukup kuat. Pengecoran melebihi kapasitas struktur. Atau mungkin pengawasan teknis yang lemah—terlalu banyak kemungkinan, terlalu sedikit jawaban pasti.
-
Berapa Jumlah Korban Sebenarnya?
Data per Selasa (30/9) pukul 09.00 WIB menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Total 102 jiwa telah dievakuasi. Dari jumlah itu, 91 orang berhasil menyelamatkan diri sendiri. Sisanya, 11 jiwa dibantu tim SAR gabungan.
Satu korban ditemukan tak bernyawa. Identitas sudah terverifikasi. Sementara 77 orang mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan bervariasi.
Distribusi korban luka ke beberapa rumah sakit: 34 jiwa ke RSUD Sidoarjo, 38 jiwa ke RS Siti Hajar, dan 4 jiwa ke RS Delta Surya. Sebagian mengalami patah tulang. Beberapa luka dalam. Kondisi kritis masih membayangi.
Yang paling mencemaskan, 38 orang dilaporkan belum ditemukan. Keluarga menunggu dengan cemas. Harapan menipis seiring waktu berlalu. Namun operasi pencarian tak boleh berhenti.
-
Siapa Saja yang Turun Tangan?
Respons cepat datang dari berbagai pihak. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sidoarjo memimpin koordinasi. BASARNAS menerjunkan tim SAR profesional. BPBD Provinsi Jawa Timur langsung bergerak.
Forkopimda Sidoarjo turut memobilisasi sumber daya. BPBD dari kota dan kabupaten tetangga berdatangan: Surabaya, Gresik, Nganjuk, Mojokerto, hingga Jombang. Solidaritas lintas wilayah terbentuk spontan.
Relawan SAR dari berbagai organisasi juga bergabung. Mereka bekerja tanpa henti. Mengangkat puing demi puing. Menyisir setiap sudut reruntuhan. Berharap menemukan tanda kehidupan.
Artikel Terkait
Sidak, Menkeu Purbaya Masuk Rapat BNI, Tolak Kursi Kehormatan - Pilih Duduk Bareng Direksi di Tengah Meja
Ipar Jokowi Billy Haryanto Dipanggil KPK Sebagai Saksi Korupsi Kereta Api, Jejak Suap Rp27,9 Miliar Terbongkar
Putusan Bulat MK Hapus Kewajiban Tapera, Program Tabungan Perumahan Kini Bersifat Sukarela
Selang 15 Cm Tertinggal dalam Tubuh, Pasien RSUD Batang Malah Divonis HIV Selama 7 Bulan
Mushala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Ambruk Saat Salat Ashar, 100 Santri Jadi Korban 1 Meninggal Dunia