• Rabu, 22 Juli 2026

Menkeu Purbaya Sebut Titik Ekonomi yang Dijanjikan Jokowi untuk Whoosh Belum Terwujud

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Rabu, 29 Oktober 2025 | 01:22 WIB
Menkeu Purbaya akui titik ekonomi yang dijanjikan Jokowi untuk Whoosh belum berkembang. Utang Rp116 T masih jadi beban berat.
Menkeu Purbaya akui titik ekonomi yang dijanjikan Jokowi untuk Whoosh belum berkembang. Utang Rp116 T masih jadi beban berat.

Sulawesitoday - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membuka kartu. Janji pembangunan ekonomi di sekitar jalur Whoosh ternyata masih sebatas wacana. Pernyataan ini muncul setelah mantan Presiden Jokowi menegaskan bahwa Kereta Cepat Jakarta-Bandung bukan sekadar proyek transportasi, melainkan penggerak roda ekonomi lokal.

Dalam konferensi pers di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa 28 Oktober 2025, Purbaya tak menampik sepenuhnya klaim Jokowi. Ada misi pengembangan regional dalam proyek Whoosh. Itu faktanya. Tapi ada yang lebih penting lagi.

"Ada betulnya juga sedikit," kata Purbaya. Nada bicaranya terukur. "Karena kan Whoosh sebetulnya ada misi regional development juga kan."

Kalimat berikutnya mengejutkan. "Tapi, yang regionalnya belum dikembangkan mungkin di mana ada pemberhentian di sekitar jalur Whoosh, supaya ekonomi dasar itu tumbuh," jelasnya gamblang.

Pengakuan Menkeu ini kontras dengan narasi Jokowi sehari sebelumnya. Di Mangkubumen, Solo, Senin 27 Oktober 2025, Presiden ketujuh RI itu yakin betul Whoosh telah menumbuhkan titik-titik ekonomi baru. UMKM tumbuh. Warung bermunculan. Pariwisata Bandung meningkat. Nilai properti naik.

  • Apa yang Sebenarnya Terjadi di Lapangan?

Kenyataan berbicara lain. Stasiun-stasiun pemberhentian Whoosh belum menjadi magnet ekonomi seperti dijanjikan. Area sekitar jalur kereta masih sepi aktivitas komersial signifikan. Titik-titik pertumbuhan yang disebutkan Jokowi belum terlihat wujudnya.

Purbaya menekankan satu hal krusial. "Itu yang mesti dikembangkan ke depan. Jadi, ada betulnya," tambahnya dengan nada diplomatik. Artinya? Potensi memang ada. Tapi realisasinya nihil hingga detik ini.

Jokowi sendiri berargumen berbeda. Menurutnya, transportasi massa bukan soal laba. Tapi keuntungan sosial. Social return of investment. Pengurangan emisi karbon. Produktivitas masyarakat meningkat. Polusi berkurang. Waktu tempuh lebih efisien.

"Di situlah keuntungan sosial yang didapatkan dari pembangunan transportasi massal," tegas Jokowi.

Mantan orang nomor satu Indonesia itu juga membela subsidi yang dikucurkan. Baginya, itu bukan kerugian. Melainkan investasi jangka panjang. Mengubah kebiasaan masyarakat dari kendaraan pribadi ke transportasi umum butuh waktu. Butuh proses panjang dan berliku.

  • Berapa Beban Utang yang Harus Ditanggung?

Angka Rp116 triliun menggantung di kepala Whoosh. Beban utang sebesar itu membuat Danantara harus terbang ke China untuk negosiasi ulang. Proyek yang diklaim sukses ini ternyata menyimpan masalah finansial serius.

Jokowi optimis kerugian akan mengecil seiring waktu. Data penumpang dijadikan senjata pembelaan. Sejak diluncurkan, Whoosh sudah mengangkut 12 juta penumpang. Rata-rata 19 ribu orang per hari. Angka yang cukup impresif untuk tahun pertama operasional.

"Kalau penumpangnya kayak Whoosh per hari 19 ribu dan sudah mencapai 12 juta, kalau setiap tahun naik orang berpindah ya kerugiannya semakin mengecil," kata Jokowi penuh yakin. "Ini kan baru tahun pertama."

MRT dijadikan pembanding. Transportasi massal itu sukses mengangkut 171 juta penumpang sejak pertama kali beroperasi. Bukti nyata bahwa masyarakat bisa berubah. Bisa beralih ke transportasi umum.

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini