Sulawesitoday - Angka pengangguran bertambah lagi. September 2025 mencatat 1.093 pekerja kehilangan pekerjaan. Jumlah ini mengonfirmasi ketidakpastian ekonomi masih menghantui dunia ketenagakerjaan Indonesia.
Data resmi Kementerian Ketenagakerjaan mengungkap fakta mengejutkan. Sejak Januari hingga September tahun ini, tidak kurang dari 45.426 pekerja terpaksa pulang tanpa pekerjaan. Angka yang cukup fantastis untuk sebuah negara yang tengah mengejar pertumbuhan ekonomi.
Pusat Data dan Teknologi Informasi Ketenagakerjaan Kemnaker merilis informasi tersebut melalui portal Satudata mereka. Rilis data itu seperti alarm peringatan bagi stabilitas ketenagakerjaan nasional. "Pada bulan September 2025 terdapat 1.093 orang tenaga kerja yang ter-PHK," demikian kutipan langsung dari situs resmi tersebut, dikutip Rabu (29/10/2025).
-
Mengapa Jawa Barat Jadi Episentrum PHK?
Provinsi Jawa Barat kembali mencatatkan rekor kelam. Sekitar 20,95 persen dari total PHK September terpusat di wilayah ini. Artinya, dari setiap lima orang yang di-PHK, satu di antaranya berasal dari Jawa Barat.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan serius. Apakah ini karena konsentrasi industri yang tinggi? Atau justru karena restrukturisasi perusahaan yang masif? Data Kemnaker tidak memberikan penjelasan mendalam soal ini.
Menariknya, angka September menunjukkan kenaikan signifikan. Bulan sebelumnya, Agustus, hanya 830 pekerja yang kena PHK. Lonjakan hampir 32 persen dalam sebulan patut diwaspadai. Ini bukan sekadar angka statistik. Ini tentang ribuan keluarga yang kehilangan sumber penghasilan utama.
-
Bagaimana Pola PHK Sepanjang Tahun 2025?
Grafik PHK tahun ini membentuk kurva yang dramatis. Februari 2025 menjadi bulan tergelap dengan 17.796 pekerja kehilangan pekerjaan. Angka tertinggi sepanjang tahun. Setelah itu, tren mulai menurun bertahap hingga Juni.
Berikut kronologi lengkap PHK tiap bulan:
- Januari 2025: 9.497 pekerja ter-PHK
- Februari 2025: 17.796 pekerja ter-PHK
- Maret 2025: 4.987 pekerja ter-PHK
- April 2025: 3.794 pekerja ter-PHK
- Mei 2025: 4.702 pekerja ter-PHK
- Juni 2025: 1.609 pekerja ter-PHK
- Juli 2025: 1.118 pekerja ter-PHK
- Agustus 2025: 830 pekerja ter-PHK
- September 2025: 1.093 pekerja ter-PHK
Pola ini menunjukkan volatilitas tinggi. Februari yang eksplosif diikuti penurunan tajam di kuartal kedua. Namun angka Juni hingga September yang relatif rendah justru menimbulkan kewaspadaan baru. Apakah ini ketenangan sebelum badai berikutnya?
-
Apakah Situasi Lebih Baik dari Tahun Lalu?
Secara statistik, memang ada perbaikan. Periode Januari-September 2024 mencatat 54.400 pekerja ter-PHK. Tahun ini turun menjadi 45.426 pekerja. Penurunan sekitar 16,5 persen.
Namun, angka ini tetap mengkhawatirkan. Hampir 50 ribu orang kehilangan pekerjaan dalam sembilan bulan. Itu setara dengan populasi satu kecamatan kecil. Jawa Tengah menjadi wilayah terdampak terberat tahun lalu dengan porsi 20,64 persen dari total PHK.
Pergeseran dari Jawa Tengah ke Jawa Barat sebagai episentrum PHK juga menarik dicermati. Ini mengindikasikan perpindahan pusat masalah ketenagakerjaan. Atau mungkin ekspansi masalah ke wilayah yang lebih luas.
-
Apa yang Tersembunyi di Balik Angka?
Angka-angka ini bukan sekadar data dingin. Setiap digit mewakili manusia dengan keluarga, cicilan, dan harapan. Ketika seseorang di-PHK, yang terdampak bukan cuma dirinya. Istri, anak, bahkan orangtua yang bergantung padanya ikut merasakan.
Data Kemnaker memang mencatat penurunan dibanding tahun lalu. Tapi pertanyaannya sederhana: apakah 45 ribu orang kehilangan pekerjaan bisa disebut pencapaian? Atau ini sekadar indikator bahwa krisis belum seburuk tahun sebelumnya?
Artikel Terkait
Anak SD hingga Tunawisma Jadi Korban Judol, Ini Darurat Nasional!
Peringatan Megawati 2015 Lalu Soal Kereta Whoosh Kini Terbukti, KPK Turun Tangan
Menkeu Purbaya Sebut Titik Ekonomi yang Dijanjikan Jokowi untuk Whoosh Belum Terwujud
5 Tari Tradisional Siswa SMPN 1 Palu Kantongi Hak Kekayaan Intelektual
Sandra Dewi Pasrah, Deposito Rp 33 Miliar dan 88 Tas Mewah Resmi Lenyap dari Tangan