• Kamis, 4 Juni 2026

Redenominasi Rupiah 1000 Banding 1, Bukan Lagi Soal Cetak Uang - Tapi Ubah Miliaran Baris Kode

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Minggu, 9 November 2025 | 18:37 WIB
Redenominasi bukan jalan pintas memperkuat rupiah. Tidak ada magic wand yang bisa mengubah daya beli hanya dengan menghapus nol. Itu ilusi berbahaya
Redenominasi bukan jalan pintas memperkuat rupiah. Tidak ada magic wand yang bisa mengubah daya beli hanya dengan menghapus nol. Itu ilusi berbahaya

Mengapa Kompleksitas Indonesia Jauh Lebih Tinggi?

Inilah yang membedakan Indonesia 2025 dengan Turki 2005 atau Romania dekade lalu. Ekosistem digital kita sudah sangat kompleks. Rupiah tidak hanya hidup di dompet fisik. Ia tersebar di berbagai platform.

Uang kartal memang masih ada. Tapi saldo rekening bank? Jutaan. E-wallet? Puluhan juta pengguna. QRIS? Lebih dari 20 juta merchant. Sistem e-commerce, treasury perusahaan, platform perdagangan aset digital, smart contract—semuanya merujuk nilai rupiah.

"Redenominasi bukan lagi soal cetak uang," jelas Harris. "Ini tentang sinkronisasi nominal pada miliaran entri data."

Bayangkan kerumitannya. Sistem pembayaran nasional. Perbankan dengan ratusan bank. Merchant aggregator dengan jutaan transaksi harian. Treasury korporasi. Platform kripto. Sistem akuntansi pemerintah pusat dan 514 pemda.

Semuanya harus dikonversi dalam jendela waktu sangat pendek. Serentak. Tanpa kesalahan. Risiko teknisnya nyata dan mengancam: kesalahan pembulatan sekian desimal, perbedaan konversi antar-sistem yang tidak sinkron, gangguan transaksi massal, hingga potensi kerentanan siber yang bisa dieksploitasi pihak tidak bertanggung jawab.

Haruskah Kerangka Hukum Diperkuat Dulu?

Mahkamah Konstitusi sudah memberi sinyal jelas. Perubahan harga rupiah adalah domain undang-undang. Bukan sekadar regulasi teknis yang bisa diatur lewat peraturan pemerintah.

Harris menekankan perlunya RUU Redenominasi yang komprehensif. "Kita perlu melibatkan semua pihak," ujarnya. Bank Indonesia, OJK, pelaku industri keuangan, hingga pemerintah daerah.

Apa saja yang harus diatur? Tahapan transisi yang detail. Masa harga ganda. Periode penarikan uang lama. Aturan pembulatan harga yang presisi. Perlindungan konsumen yang ketat. Audit konversi sistem pembayaran yang menyeluruh.

"Semua ini harus diatur dengan presisi tinggi," tegas Kapoksi PDI Perjuangan ini. "Tidak boleh ada ruang untuk interpretasi ganda."

Apa Saja Dampak Jangka Pendek yang Tak Terhindarkan?

Gangguan psikologis hampir pasti terjadi. Money illusion—fenomena di mana masyarakat merasa harga berubah padahal hanya format angka yang berbeda. Ghana mengalaminya. Brazil juga.

Di Indonesia, risiko ini lebih besar. Mengapa? UMKM dengan pencatatan manual. Tanpa pengawasan harga yang kuat, pembulatan harga ke atas bisa memicu inflasi semu. Bukan inflasi fundamental, tapi dampaknya tetap terasa di kantong rakyat.

Biaya penyesuaian dunia usaha juga tidak kecil. Sistem POS harus diperbarui. Label harga diganti. Invoice dikonversi. Aplikasi pembukuan di-update. Kontrak pinjaman direvisi. Tarif layanan disesuaikan.

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini