• Selasa, 21 Juli 2026

Prestasi Cemerlang Jadi Tameng, Natalius Pigai Lolos dari Reshuffle Kabinet Prabowo

.
Muhammad Aqil Azizi, Sulawesi Today
- Sabtu, 15 November 2025 | 12:32 WIB
Natalius Pigai lolos reshuffle kabinet Prabowo berkat prestasi terukur: nomor 1 pelelangan & penghargaan Ombudsman RI. Ini alasan lengkapnya
Natalius Pigai lolos reshuffle kabinet Prabowo berkat prestasi terukur: nomor 1 pelelangan & penghargaan Ombudsman RI. Ini alasan lengkapnya

Sulawesitoday - Kursi menteri bergoyang. Reshuffle kabinet datang tiba-tiba. Namun, satu nama tetap kokoh: Natalius Pigai. Menteri Hak Asasi Manusia ini selamat dari perombakan besar yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto. Bukan tanpa alasan. Pigai punya cerita tersendiri mengapa dirinya masih dipercaya memimpin kementerian yang ia sebut "tidak mudah" itu.

Dalam sebuah wawancara yang ditayangkan kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Jumat (14/11/2025), pria asal Papua itu membuka kartu. Prestasi kerja menjadi senjata utamanya. Angka-angka berbicara lebih keras daripada janji-janji politik. "Dari PCO saya nomor tiga," ujar Pigai tegas. "Dari unit kerja pelelangan, saya nomor satu di Republik Indonesia." Kalimat itu bukan sekadar klaim. Ada data pendukung dari penilaian kinerja pengadaan yang membuktikan capaiannya.

Lebih dari sekadar angka internal, Pigai juga mendapat validasi eksternal. Ombudsman Republik Indonesia memberikan penghargaan kepada Kementerian HAM. Penilaiannya? Patuh, berintegritas, dan transparan. Tiga kata yang jarang melekat di institusi pemerintahan Indonesia. "Ombudsman menilai saya, kasih penghargaan kementerian yang patuh, berintegritas dan transparan," lanjut politikus Gerindra tersebut. Prestasi semacam ini bukan hadiah. Ia hasil kerja keras dan konsistensi.

Apa yang Membuat Posisi Menteri HAM Begitu Rumit?

Pigai tidak menyembunyikan fakta bahwa memimpin Kementerian HAM penuh tantangan. Berbeda dengan kementerian teknis lainnya, HAM selalu bersinggungan dengan isu sensitif. Pelanggaran masa lalu. Konflik horizontal. Kebebasan berekspresi. "Kalau untuk menjadi menteri HAM kan susah, tidak mudah," kata Pigai jujur. Posisi ini membutuhkan keberanian sekaligus diplomasi tingkat tinggi.

Namun, tantangan bukan hal baru bagi Pigai. Sebelum menjabat menteri, ia dikenal sebagai aktivis vokal. Kritis terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan masyarakat Papua. Transisi dari aktivis ke pejabat pemerintah tentu bukan perjalanan mulus. Pigai harus menyeimbangkan idealisme dengan realitas birokrasi. Dan sejauh ini, ia mengaku berhasil menavigasi ruang sempit itu.

Loyalitas juga menjadi faktor penting. Pigai menegaskan bahwa ia bukan orang baru dalam tim Prabowo. "Saya kan yang berjuang bersama bapak," ucap Pigai mengenang. "Kan bapak sendiri bilang saya orang yang berkeringat." Frasa "orang yang berkeringat" merujuk pada mereka yang ikut berjuang sejak masa kampanye. Bukan politisi dadakan yang datang setelah kemenangan. Pigai adalah bagian dari inner circle yang membangun fondasi kemenangan Prabowo.

Apakah Pigai Merasa Aman dari Reshuffle Selanjutnya?

Meski lolos kali ini, Pigai tidak naif. Ia paham bahwa politik adalah arena yang dinamis. Pergantian kabinet bisa terjadi kapan saja. "Tapi bahwa suatu saat akan ada pergantian dengan orang lain itu kan harus dipahami juga," sambung Pigai realistis. Tidak ada jabatan yang permanen. Semua bisa berubah dalam sekejap.

Namun, Pigai punya prinsip sederhana: mereka yang bekerja keras akan bertahan. "Dalam konteks politik, Anda yang bekerja, Anda yang dapat," pungkasnya dengan mantap. Logika ini mungkin terdengar ideal dalam dunia politik Indonesia yang kerap diwarnai transaki dan nepotisme. Tapi setidaknya, pernyataan Pigai menegaskan bahwa meritokrasi masih punya tempat—setidaknya di kabinetnya Prabowo.

Kasus Pigai menarik untuk dicermati. Di tengah hiruk-pikuk reshuffle yang menyeret sejumlah nama besar, seorang menteri bertahan karena prestasi terukur. Bukan karena lobi politik. Bukan karena afiliasi partai besar. Melainkan karena angka-angka yang tidak bisa dibantah. Ombudsman memberikan stempel persetujuannya. PCO dan unit pelelangan menempatkannya di jajaran teratas.

Tentu saja, pertanyaan tetap menggantung. Apakah sistem meritokrasi ini akan konsisten diterapkan? Atau Pigai hanya pengecualian dalam pola yang lebih besar? Hanya waktu yang akan menjawab. Yang pasti, untuk saat ini, Natalius Pigai masih memegang kendali penuh di Kementerian HAM. Kursinya aman. Setidaknya hingga reshuffle berikutnya datang mengetuk pintu.

Baca Juga: Mentan Amran Bongkar Praktik Serakahnomic, Konglomerat Pangan Manipulasi Harga hingga Kualitas Beras

Editor: Muhammad Aqil Azizi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini