• Kamis, 4 Juni 2026

178 Pendaki Terjebak di Ranu Kumbolo, Gunung Semeru Muntahkan Awan Panas Sejauh 4,5 Km

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Kamis, 20 November 2025 | 12:48 WIB
Gunung Semeru erupsi 19 November 2025, 178 pendaki terjebak di Ranu Kumbolo. Status Level IV Awas, 300 warga dievakuasi. Kondisi aman.
Gunung Semeru erupsi 19 November 2025, 178 pendaki terjebak di Ranu Kumbolo. Status Level IV Awas, 300 warga dievakuasi. Kondisi aman.

Sulawesitoday - Gunung tertinggi di Pulau Jawa kembali menunjukkan taringnya. Semeru melontarkan awan panas guguran pada Rabu sore, 19 November 2025. Ratusan pendaki terjebak. Tiga desa lumpuh. Status darurat diberlakukan.

Pukul 14.13 WIB, Semeru bergemuruh. Awan panas guguran melesat dari puncak Mahameru. Jarak luncur mencapai 4,5 kilometer ke arah tenggara. Bahaya mengintai. Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru langsung bergerak cepat, memantau pergerakan material vulkanik yang mengancam jalur pendakian populer ini.

Dalam hitungan jam, keputusan krusial diambil. Pukul 17.00 WIB, status aktivitas Semeru melonjak dari Level III (Siaga) ke Level IV (Awas)—level tertinggi dalam sistem peringatan vulkanologi Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat kenaikan status ini bukan sekadar prosedur administratif. Ada potensi dampak meluas. Ada kemungkinan evakuasi massal.

  • Berapa Jumlah Pendaki yang Terjebak?

Di ketinggian 2.400 meter, tepatnya di kawasan Ranu Kumbolo, 178 orang kini menanti kepastian. Angka itu bukan sekadar statistik. Ada 137 pendaki biasa. Ada 1 petugas lapangan. Ada 2 saver siaga. Ada 7 pendamping pendakian terdaftar. Ada 15 porter yang mengangkut beban. Dan ada 6 personel dari Kementerian Pariwisata.

"Jumlah orang yang berada di Ranu Kumbolo 178 orang secara keseluruhan," ujar Septi Eka Wardhani, Kepala Bagian Tata Usaha BB TNBTS, saat dihubungi wartawan pada Rabu malam. Nadanya tenang. Namun ada kekhawatiran terselubung.

Danau cantik yang biasa jadi spot foto para pendaki kini berubah fungsi. Menjadi zona tunggu darurat. Menjadi shelter sementara bagi mereka yang terperangkap antara ancaman vulkanik dan ketidakpastian cuaca.

  • Apakah Kondisi Pendaki Aman?

Kabar menggembirakan datang dari Endrip Wahyutama, juru bicara BB TNBTS. "Untuk saat ini, kondisi di Ranu Kumbolo relatif aman. Awan panas terpantau bergerak ke arah tenggara selatan, sedangkan posisi Ranu Kumbolo berada di utara," jelasnya dengan tegas.

Geografi menyelamatkan. Arah aliran APG menjauhi lokasi pendaki. Namun kata "relatif" dalam pernyataan itu bukan tanpa makna. Ini gunung berapi. Sifatnya dinamis. Prediksi bisa meleset.

Tim koordinasi terus berkomunikasi dengan para PPGST (Pendamping Pendakian Gunung Semeru Terdaftar). Kondisi pengunjung terpantau. Logistik mencukupi. Namun semua menahan napas, menunggu jendela evakuasi yang aman.

Rencana evakuasi sudah disusun matang. Kamis pagi, 20 November 2025 pukul 08.00 WIB, barisan pendaki akan mulai turun. Rute dipilih menuju Ranupani. Jalur teraman dalam situasi seperti ini. "Kami terus berkoordinasi dengan para pemandu, dan hingga saat ini kondisi pengunjung masih aman serta terkendali," tambah Endrip.

  • Bagaimana Dampak ke Permukiman Warga?

Sementara perhatian tertuju ke Ranu Kumbolo, di kaki gunung, realitas lebih keras menghantam. Tiga desa di Kabupaten Lumajang langsung merasakan amukan Semeru. Desa Supit Urang terkena dampak. Desa Oro-Oro Ombo juga. Dan Desa Penanggal di Kecamatan Candipuro tak luput dari ancaman abu vulkanik dan material erupsi.

Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan BNPB per Rabu malam mencatat 300 warga telah dievakuasi. Operasi evakuasi melibatkan sinergi solid antara BPBD, TNI, Polri, dan relawan lokal. Mereka bekerja di tengah kepekatan abu. Di tengah ketidakpastian.

Tempat pengungsian disiapkan dengan fasilitas lengkap. Ada layanan medis untuk warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat abu vulkanik. Ada logistik berupa makanan dan air bersih. Ada pula tim informasi yang terus memperbarui perkembangan situasi kepada pengungsi.

Pemandangan di posko pengungsian menyayat hati. Anak-anak menangis. Ibu-ibu memeluk barang bawaan seadanya. Bapak-bapak menatap kosong ke arah gunung yang telah memberi makan sekaligus mengancam hidup mereka selama puluhan tahun.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini