Konsepnya sederhana namun efektif. Pesawat datang membawa bantuan bencana, lalu pulang membawa komoditas pertanian warga.
"Ide besarnya, dengan pesawat bantuan yang datang ke Bandara Rembele, lalu kembali ke Jakarta membawa hasil panen yang sudah dibeli," terang Ferry.
Strategi ini menciptakan win-win solution. Bantuan tetap mengalir deras ke Aceh. Warga mendapat pembeli untuk hasil panennya. Ekonomi lokal berputar kembali.
"Bantuan mengalir dan ekonomi warga juga berputar," tambah Ferry.
Mekanisme pembelian dilakukan dengan harga wajar. Tidak ada unsur eksploitasi terhadap petani yang sedang terpuruk. Justru inisiatif ini memastikan petani mendapat nilai jual layak di tengah krisis logistik.
Cabe merah dari Bener Meriah memang terkenal kualitasnya. Warna cerah. Rasa pedas pas. Tekstur daging tebal. Komoditas ini biasanya diminati pasar Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
Seberapa Signifikan Dampak Ekonominya?
Hingga pertengahan Desember 2025, inisiatif ini mulai menunjukkan hasil nyata. Beberapa keluarga petani mengaku sudah menerima pembayaran dari hasil panen yang terangkut.
"Ini baru awal, semoga ada lebih banyak perputaran ekonomi yang bisa kita lakukan," tegas Ferry.
Meskipun belum ada data pasti berapa ton cabe yang sudah terangkut, dampak psikologis bagi warga sangat terasa. Mereka kembali punya harapan. Punya semangat untuk bangkit.
Petani yang sempat frustasi karena hasil panen terancam busuk, kini kembali merawat ladangnya. Beberapa bahkan mulai merencanakan musim tanam berikutnya.
Ferry optimis model ini bisa dikembangkan. Bukan hanya untuk cabe, tapi juga komoditas lain seperti kopi, sayuran, atau hasil bumi khas Aceh Tengah lainnya.
"Semoga dengan adanya inisiatif ini, bantuan bisa semakin mudah mengalir, ekonomi kembali berputar, dan warga Sumatera bisa lekas pulih," pungkasnya.
Inisiatif sederhana ini mengingatkan kita bahwa pemulihan bencana bukan hanya soal membangun infrastruktur. Ini tentang menghidupkan kembali nafas ekonomi masyarakat yang terhenti. Tentang memastikan mereka bisa mandiri, bukan hanya bergantung pada bantuan.
Di tengah puing bencana Aceh Tengah, cabe merah menjadi simbol. Simbol harapan. Simbol bahwa komunitas yang solid mampu bangkit dari keterpurukan dengan cara mereka sendiri. Bantuan dari luar hanya katalisator. Yang menggerakkan adalah semangat warga itu sendiri.
Artikel Terkait
Ngeri-Ngeri Sedap, Warga Beutong Ateuh Nekat Seberangi Sungai Deras Lewat Jembatan Kayu Darurat
72 Jam Tanpa Air Bersih, Ibu Korban Banjir Aceh Tamiang Ungkap Perjuangan Bertahan Hidup
Ketua Posko di Aceh Tolak Bantuan Beras, Minta Dialihkan ke Kampung yang Lebih Kelaparan
Kebun Musnah Dihantam Banjir, Ayah di Aceh Tamiang Menangis: Bayar Sekolah Anak Tak Sanggup Lagi
Ditinggal Suami Hilang 20 Hari, Ibu di Aceh Utara Berjuang Sendirian di Tengah Reruntuhan