• Selasa, 21 Juli 2026

72 Jam Tanpa Air Bersih, Ibu Korban Banjir Aceh Tamiang Ungkap Perjuangan Bertahan Hidup

.
Nur Rafiqa, Sulawesi Today
- Selasa, 16 Desember 2025 | 18:59 WIB
Ibu korban banjir Aceh Tamiang bertahan 3 hari tanpa air dan makanan. Ditolak tetangga, dapat bantuan minim. Kisah ketegaran di balik bencana.
Ibu korban banjir Aceh Tamiang bertahan 3 hari tanpa air dan makanan. Ditolak tetangga, dapat bantuan minim. Kisah ketegaran di balik bencana.

Sulawesitoday - Banjir mengisolasi sebuah keluarga. Tiga hari berlalu. Tidak ada air bersih. Tidak ada makanan. Seorang ibu di Aceh Tamiang mengalami hal itu. Penderitaannya terekam dalam unggahan media sosial yang kemudian menyedot perhatian publik. Kisahnya bukan sekadar soal bencana alam. Ini tentang ketahanan manusia menghadapi situasi kritis.

Selasa, 16 Desember 2025 menjadi saksi. Akun TikTok @zaits_bf membagikan video. Di dalamnya, sang ibu bercerita. Suaranya bergetar. Matanya basah. Ia menceritakan pengalaman pahit yang dialami keluarganya. Terisolir oleh air bah yang merendam kampung mereka, akses terhadap kebutuhan dasar seketika lenyap. Bayangkan: 72 jam tanpa setetes air untuk diminum atau untuk membersihkan tubuh.

"Tiga hari tiga malam kami haus," katanya pelan. Nada bicaranya penuh kepedihan. Kata-kata itu terasa berat. Setiap suku katanya seperti menggambarkan beban yang ditanggung. Kondisi ini bukan hanya soal fisik semata. Ada dimensi psikologis yang turut mencekam. Haus dan lapar dalam waktu bersamaan menciptakan siksaan yang sulit dibayangkan bagi mereka yang tidak pernah mengalaminya.

  • Bagaimana Respons Lingkungan Sekitar Terhadap Permintaan Bantuan?

Dalam situasi genting, harapan biasanya datang dari sesama. Namun realita yang dialami ibu ini justru sebaliknya. Ia mencoba meminta pertolongan kepada tetangga yang berada di sekitar lokasi pengungsian. Harapannya sederhana: sekadar air bersih untuk menghilangkan dahaga. Tapi pintu solidaritas itu tidak terbuka. Permintaannya ditolak.

"Kami minta sama orang sebelah pun tidak diberi," ungkap ibu tersebut dengan nada yang sulit disembunyikan kekecewaannya. Penolakan ini menambah lapis penderitaan yang sudah begitu tebal. Bukan hanya tubuh yang tersiksa, namun hati juga terluka. Di tengah bencana, harapan pada kemanusiaan justru kandas. Fenomena ini menjadi cermin betapa krisis dapat mengubah dinamika sosial dalam sekejap.

Penolakan bantuan dari sesama korban banjir ini mungkin memiliki banyak alasan. Bisa jadi mereka juga kekurangan. Bisa jadi mereka juga berjuang untuk bertahan. Namun bagi ibu ini, penolakan tersebut menjadi pengalaman yang sangat membekas. "Begitulah rasa sedihnya luar biasa," tambahnya. Kata-kata sederhana itu menyimpan kedalaman emosi yang kompleks.

  • Berapa Banyak Bantuan yang Akhirnya Diterima?

Setelah melewati masa kritis selama tiga hari tiga malam, bantuan akhirnya datang. Namun jumlahnya jauh dari cukup. Untuk satu kepala keluarga, ia hanya menerima dua gelas beras. Ya, dua gelas. Bukan kilogram, bukan karung. Hanya dua gelas untuk sebuah keluarga yang sudah kelaparan selama 72 jam. Angka ini terdengar hampir tidak masuk akal.

"Tiga hari tiga malam baru dapat bantuan, itu pun dapat bantuan beras dua gelas, satu KK berasnya dua gelas," jelasnya dengan detail yang presisi. Pernyataan ini bukan hanya kritik tersirat terhadap sistem distribusi bantuan. Ini juga gambaran konkret tentang kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan logistik di lapangan. Pertanyaannya kemudian muncul: apakah sistem koordinasi bantuan bencana sudah berjalan efektif?

Dua gelas beras untuk satu keluarga setelah tiga hari tidak makan. Perhitungan sederhana menunjukkan bahwa jumlah ini bahkan tidak cukup untuk satu kali makan bersama. Apalagi untuk memulihkan energi yang sudah terkuras habis. Namun dalam keterbatasan itu, sang ibu tidak mengeluh lebih jauh. Ia malah memilih bersyukur.

  • Bagaimana Kondisi Psikologis Korban Setelah Pengalaman Traumatis Ini?

Ketegaran menjadi pilihan. Meski harus merasakan penderitaan yang begitu berat, ibu ini menunjukkan sikap yang patut diapresiasi. Ia tidak larut dalam keluhan. Tidak terperangkap dalam amarah. Sebaliknya, ia memilih untuk bersyukur. "Alhamdulillah, Allah itu walaupun seperti ini masih menolong kami semuanya," ujarnya dengan tulus.

Ucapan syukur di tengah kesulitan ini bukan berarti ia menerima begitu saja kondisi yang tidak adil. Ini lebih kepada mekanisme bertahan secara psikologis. Dalam berbagai studi tentang resiliensi, rasa syukur terbukti menjadi salah satu faktor yang membantu korban bencana untuk tetap waras dan memiliki harapan. Ibu ini, secara tidak langsung, mendemonstrasikan kekuatan mental yang luar biasa.

Namun di balik ketegaran itu, ada bekas luka yang tidak mudah hilang. Pengalaman ditolak tetangga, bertahan tanpa air dan makanan, serta menerima bantuan yang sangat minim—semua itu akan terekam dalam memori jangka panjang. Trauma pasca-bencana bukan hanya soal kehilangan harta benda. Ini juga tentang kehilangan rasa aman dan kepercayaan pada sistem yang seharusnya melindungi warganya.

  • Apa yang Seharusnya Dilakukan untuk Mencegah Kejadian Serupa?

Kisah ibu di Aceh Tamiang ini membuka mata kita semua. Pertama, sistem peringatan dini perlu diperkuat. Kedua, jalur evakuasi harus lebih baik. Ketiga, distribusi bantuan logistik harus lebih cepat dan merata. Keempat, koordinasi antar lembaga bantuan perlu ditingkatkan. Kelima, pendataan korban harus akurat agar tidak ada yang terlewat.

Pemerintah daerah dan pusat perlu mengevaluasi mekanisme respons bencana. Mengapa butuh tiga hari untuk bantuan sampai ke korban? Mengapa jumlah bantuan begitu minim? Apakah ada masalah di logistik? Atau di koordinasi? Atau bahkan di komitmen? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab dengan transparan dan diikuti dengan perbaikan sistem yang konkret.

Halaman:

Editor: Nur Rafiqa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini