Atau, seorang ibu diare ringan. Tidak ada obat. Dehidrasi. Kondisi memburuk. Bahkan bisa berujung kematian.
"Kadang kondisinya sulit, tapi kita harus cari cara untuk menghidupkan posko-posko itu dan ada pelayanan kesehatan," tegasnya dengan nada mendesak.
Kesulitan memang ada. Akses jalan rusak. Logistik terhambat. Namun, ini bukan alasan untuk menunda.
Pertempuran Kedua Setelah Air Surut
Banjir adalah bencana pertama. Penyakit pascabanjir adalah pertempuran kedua. Dan pertempuran ini sama berbahayanya.
Dokter Daeng mengajak semua pihak bergerak cepat. Pemerintah, relawan, tenaga kesehatan—semua harus bersinergi. Tidak ada waktu untuk birokrasi yang berbelit.
"Kondisi pengungsi sudah sangat rentan. Kita tidak boleh membiarkan mereka berjuang sendiri melawan penyakit," pungkasnya.
Pesan ini bukan sekadar himbauan. Ini adalah alarm. Sebuah peringatan bahwa bahaya belum usai meski air telah surut.
Yang tersisa sekarang adalah pilihan: bertindak cepat atau menunggu musibah berlapis datang menghampiri.
Posko kesehatan bukan sekadar fasilitas. Ia adalah benteng terakhir antara harapan dan keputusasaan bagi ribuan pengungsi yang kini masih bertahan di tengah ketidakpastian.
Artikel Terkait
DPR Khawatir Bendera GAM di Aceh Picu Perpecahan, Momentum Bencana Jadi Taruhan
Emas Haram di Parimo: Deru Mesin, Bisikan Restu dan APH Buta
Tengah Malam di Bekasi, Gus Yazid Diborgol—Aliran Dana Rp20 Miliar dari Jenderal Terbongkar
Banjir Bandang Tebing Tinggi: Warga Bertahan di Atap Ambulans Saat Air Kepung Pemukiman
Momen Memilukan: Anak-Anak Desa Babo Aceh Hidup Tanpa Listrik Sebulan, Masih Butuh Baju dan Selimut Pascabanjir 15 Meter