• Kamis, 4 Juni 2026

Logika Gus Miftah di Colosseum, Berhenti Maksiat Semalam Saja Adalah Prestasi

.
Dwi Rahayu Putri, Sulawesi Today
- Rabu, 25 Februari 2026 | 12:13 WIB
Gus Miftah kembali ke "habitat" dakwahnya dengan menggelar buka puasa bersama pekerja Colosseum Jakarta. Membawa pesan sejuk tentang hamba Tuhan tanpa menghakimi.
Gus Miftah kembali ke "habitat" dakwahnya dengan menggelar buka puasa bersama pekerja Colosseum Jakarta. Membawa pesan sejuk tentang hamba Tuhan tanpa menghakimi.

Sulawesitoday - Gus Miftah kembali. Ke habitat aslinya. Ke tempat yang oleh banyak orang dianggap "remang-remang".

Selasa kemarin, 24 Februari 2026, ia tidak berada di podium megah. Ia berada di Colosseum Jakarta. Di 1001 Hotel. Sebuah nama besar di dunia hiburan malam. Bukan untuk dugem, tentu saja. Ia datang untuk satu tujuan: buka puasa bersama para pekerja di sana.

Inilah DNA Gus Miftah yang dulu membuatnya meroket. Dakwah di tempat yang orang lain justru menjauh.

Banyak orang kaget. Kok bisa? Di klub malam? Apa tidak takut terkena najis moral?

Gus Miftah punya jawabannya sendiri. Sangat khas. Sangat menyejukkan.

“Allah itu tidak memanggil manusia dengan sebutan 'wahai pendosa',” katanya di sela tausiah. “Allah memanggil kita dengan 'wahai hamba-Ku'.”

Kalimat itu sederhana. Tapi bagi pekerja klub malam yang mungkin setiap hari merasa dihakimi publik, kalimat itu adalah oase. Sangat dalam.

Gus Miftah memang ahli dalam memanusiakan manusia. Ia bercerita lagi tentang hobinya dulu: mendatangi lokalisasi. Ia bayar para pekerja di sana. Bukan untuk "memakai" jasa mereka, tapi agar mereka libur satu malam. Agar mereka bisa ikut pengajiannya.

Bagi Gus Miftah, berhenti maksiat satu malam saja sudah sebuah prestasi. Itu kemajuan. Kita, katanya, terlalu sering menuntut orang langsung jadi malaikat, sampai lupa menghargai proses kecil.

Belakangan ini Gus Miftah memang banyak diuji. Dihantam kritik sana-sini. Ia tidak berkelit. Ia justru mengutip hadis: kalau Allah sayang pada hambanya, hamba itu akan diuji.

“Manusia punya kendala, Allah punya kendali,” ucapnya mantap.

Logika Gus Miftah soal kritik ini unik. Ia merasa ujian justru membuka keran rezeki untuk menolong orang lain. Buktinya? Setelah badai kritik itu, jumlah orang yang ia berangkatkan umrah justru makin banyak. Makin dihantam, makin banyak memberi.

Memang, langkah Gus Miftah di Colosseum ini pasti akan memantik pro-kontra lagi. Selalu begitu. Yang merasa paling suci pasti akan nyinyir.

Tapi Gus Miftah punya logika yang sulit dipatahkan: “Kalau yang di masjid sudah rajin, lalu siapa yang mau datang ke tempat-tempat seperti ini?”

Halaman:

Editor: Dwi Rahayu Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini